JAKARTA, AFU.ID — Keputusan Presiden Prabowo Subianto mencopot Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatan Menteri Keuangan (Menkeu) pada Senin (14/09/2026) mengejutkan publik. Keputusan reshuffle kilat ini memicu gelombang perbincangan hangat di media sosial, mengingat posisi Menkeu merupakan benteng utama pengawal perekonomian negara.
Selama menduduki kursi nomor satu di Kementerian Keuangan, gaya kepemimpinan dan diplomasi publik Purbaya memang tak pernah sepi dari sorotan media. Pola komunikasinya yang ceplos-ceplos kerap memantik pro-kontra di kalangan pengamat ekonomi, anggota parlemen, hingga kepala daerah.
Berikut adalah deretan poin kontroversi dan dinamika panas yang menyelimuti rekam jejak Purbaya sebelum posisinya resmi digantikan oleh Suahasil Nazara:
1. Perseteruan Dana Bagi Hasil (DBH) dengan Pemprov DKI Jakarta
Salah satu pemicu ketegangan terbesarnya di ranah publik adalah penahanan anggaran Dana Bagi Hasil (DBH) milik Pemprov DKI Jakarta. Kebijakan pengetatan arus kas ini memicu perdebatan terbuka antara Purbaya dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di media massa. Penundaan pencairan hak anggaran daerah tersebut dinilai terlalu kaku dan sempat mengganggu rencana pembangunan serta ritme belanja di ibu kota.
2. Disemprot DPR Akibat Nota Keuangan Banyak Typo
Dalam forum Rapat Kerja (Raker) resmi bersama legislatif, Purbaya sempat mendapat teguran tajam dari anggota DPR RI. Sorotan keras tersebut dipicu oleh ditemukannya sejumlah kesalahan ketik (typo) fatal dan ketidaksesuaian data pada dokumen resmi Nota Keuangan yang diserahkan Kemenkeu. Insiden administrasi tersebut menjadi bahan perbincangan publik lantaran dianggap mengurangi standar ketelitian instansi pemegang otoritas fiskal.
3. Sentimen Pasar dan Gaya Komunikasi Cenderung 'Koboi'
Pernyataan-pernyataan Purbaya di hadapan awak media kerap dinilai kurang terukur oleh para pelaku industri dan pengamat ekonomi. Kebijakan pengetatan anggaran yang dilemparkan secara mendadak tanpa narasi diplomasi yang matang sempat memicu persepsi negatif di pasar keuangan. Pendekatan yang dianggap terlalu 'koboi' ini dinilai bertolak belakang dengan karakter teknokratis yang dibutuhkan untuk menjaga iklim investasi.
4. Reshuffle Kilat Hanya Berjarak Hitungan Jam
Puncak dari perjalanan Purbaya di Kabinet Merah Putih terjadi secara sangat dramatis pada Senin (14/09/2026). Pukul 10.00 WIB pagi, Purbaya tercatat masih memimpin rapat kerja resmi sebagai Menkeu bersama Komite IV DPD RI di Kompleks Parlemen. Namun, hanya berjarak lima jam atau tepatnya pukul 15.30 WIB sore, Presiden Prabowo resmi melantik Suahasil Nazara di Istana Negara untuk mencopot dan menggantikan jabatannya.
Penunjukan Suahasil Nazara, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan dipandang sebagai langkah percepatan Istana untuk memulihkan kepercayaan pasar dan meredam ketegangan komunikasi politik. Publik kini menanti apakah sosok teknokrat senior tersebut mampu mengembalikan kestabilan fiskal sekaligus mencairkan hubungan kerja dengan pemerintah daerah yang sempat memanas. (RHU)