JAKARTA, AFU.ID — Universitas Padjadjaran bersama Ikatan Alumni (IKA) Unpad menerjunkan Tim Tanggap Bencana untuk membantu masyarakat terdampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT). Tim tersebut terdiri dari unsur Pusat Riset Kebencanaan Unpad, Atlas Medical Pioneer (AMP) Fakultas Kedokteran Unpad, dan para relawan dari IKA Unpad. Mereka akan melaksanakan misi kemanusiaan di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, pada 24-28 Agustus 2026.
"Penerjunan tim ini merupakan bentuk komitmen Unpad dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat bagi korban bencana di NTT. Pulau Palue dipilih karena akses logistik dan layanan kesehatan di lokasi terdampak masih terbatas sehingga diperlukan intervensi langsung dari perguruan tinggi,” ujar Kepala Pusat Pengembangan Pengabdian kepada Masyarakat Unpad Irfan Zidni, Ph.D, Senin (24/8/2026).
Pelepasan tim dilakukan oleh Direktur Direktorat Riset, Hilirisasi, dan Pengabdian kepada Masyarakat Unpad Prof. Nur Atik. Tim dipimpin oleh Ketua Pusat Riset Kebencanaan Unpad Roffi Grandiosa, Ph.D., bersama Ferry Parsaulian Pakpahan, M.Hum. Sementara itu, pelayanan medis diperkuat tim relawan Atlas Medical Pioneer FK Unpad yang terdiri dari dr. Irfan Taufik Kusman, Fauzi Akmal Buntoro, dan Irsam Anshorullah, S.Ked.
Dalam perjalanan menuju Pulau Palue, tim terlebih berkoordinasi dengan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang. Setibanya di Maumere, tim diterima oleh Rektor Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere Dr. Jonas K.G.D. Gobang. Koordinasi dengan kedua perguruan tinggi dilakukan untuk menggali informasi mengenai kondisi serta kebutuhan masyarakat.
Di Pulau Palue, tim Tanggap Bencana Unpad bersama IKA Unpad memberikan bantuan di Desa Ladolaka, Kabupaten Sikka. Tim Unpad juga bekerja sama dengan Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere yang diwakili Frederick, dan melibatkan mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Unipa. Tim medis bertugas memberikan layanan kesehatan, sementara tim logistik dan operasional menangani distribusi bantuan serta koordinasi di lapangan.
Tim Pusat Riset Kebencanaan Unpad juga melakukan pemetaan risiko dan evaluasi kondisi lingkungan sebagai bahan rekomendasi penanganan selanjutnya. Tim relawan Unpad menyalurkan bantuan berupa obat-obatan, perlengkapan sanitasi (hygiene kits), bahan pangan pokok, air bersih, dan kebutuhan lain, serta memberikan layanan pengobatan gratis dan pemeriksaan kesehatan keliling (mobile clinic), juga edukasi mitigasi bencana.
“Unpad harus bermanfaat bagi masyarakat. Kampus harus dapat membuktikan bahwa hasil riset dan keilmuan tidak berhenti di ruang kelas atau publikasi semata, tetapi hadir langsung menjawab masalah riil di masyarakat,” papar Irfan.
Melalui misi tersebut, Unpad juga mendorong adanya tindak lanjut penanganan pascabencana melalui sinergi dengan berbagai pihak di daerah. Hasil asesmen dan pemetaan yang dilakukan diharapkan dapat menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan selanjutnya serta mendukung penguatan kerja sama antara Unpad, pemerintah daerah, perguruan tinggi setempat, dan komunitas lokal.
“Kami berharap kehadiran tim dapat membantu pemulihan kesehatan dan kondisi masyarakat terdampak secara bertahap, sekaligus mendukung terbangunnya sistem mitigasi lokal yang lebih tangguh di Pulau Palue,” harapnya. (MAR)