JAKARTA, AFU.ID — Hubungan politik antara Partai Gerindra dan PDI Perjuangan kembali menjadi perhatian setelah Presiden Prabowo Subianto memberikan pujian terbuka kepada Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat peresmian LRT Jakarta rute Kelapa Gading-Manggarai, Rabu. Sehari setelah momen tersebut, Gerindra menyatakan membuka peluang bekerja sama dengan seluruh kekuatan politik, termasuk PDI-P, dalam menghadapi Pemilihan Presiden 2029. Pernyataan itu muncul ketika berbagai spekulasi mengenai konfigurasi politik pasca-2024 mulai bermunculan.
Juru Bicara Gerindra Sugiat Santoso mengatakan partainya tidak menutup pintu bagi partai politik mana pun untuk bersama-sama memperjuangkan kepentingan rakyat. Menurut dia, peluang kerja sama juga terbuka bagi PDI-P meski kedua partai selama ini beberapa kali berada di kubu politik yang berbeda dalam kontestasi nasional. Namun, ia menegaskan belum ada pembahasan mengenai pasangan calon maupun pembentukan koalisi secara resmi untuk Pilpres 2029. “Gerindra membuka pintu selebar-lebarnya kepada kekuatan politik mana pun dalam konteks 2029 untuk bersama-sama memperjuangkan kepentingan rakyat. Bahkan dengan PDI-P sekali pun,” kata Sugiat, Kamis (17/09/26).
Meski memberi sinyal keterbukaan, Gerindra menyebut fokus utama partai saat ini masih berada pada pemerintahan yang dipimpin Prabowo Subianto. Sugiat mengatakan pembicaraan politik yang berjalan bersama partai-partai koalisi saat ini lebih banyak berkaitan dengan pembahasan Rancangan Undang-Undang Pemilu. Menurutnya, belum ada pembahasan yang mengarah pada pemetaan kandidat atau konfigurasi koalisi untuk Pilpres mendatang.
Munculnya pernyataan tersebut tidak lepas dari sorotan terhadap keakraban Prabowo dan Pramono dalam agenda peresmian LRT Jakarta. Dalam perjalanan dari Stasiun Kelapa Gading menuju Manggarai, keduanya terlihat berbincang dan berada dalam satu gerbong bersama sejumlah pejabat serta perwakilan masyarakat. Seusai perjalanan, Prabowo juga memberikan apresiasi terhadap kinerja Pramono sebagai kepala daerah.
Dalam pidatonya, Prabowo menyatakan dirinya tidak ragu mengakui kinerja pejabat yang dinilai bekerja baik meski berasal dari partai politik berbeda. Presiden juga menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah untuk menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat. Pernyataan tersebut kemudian memunculkan pembahasan mengenai kemungkinan terbukanya ruang komunikasi politik yang lebih luas antara Gerindra dan PDI-P.
Meski demikian, Sugiat menegaskan momen kebersamaan Prabowo dan Pramono tidak dapat diartikan sebagai agenda politik menuju Pilpres 2029. Menurut dia, keduanya hadir dalam kapasitas sebagai Presiden dan Gubernur DKI Jakarta dalam sebuah kegiatan resmi pemerintahan. Karena itu, interaksi yang terjadi disebut sebagai bagian dari pelaksanaan tugas dan bukan pembicaraan mengenai koalisi politik. “Pertemuan itu tugas, sebagai Presiden dan sebagai Gubernur yang dalam satu kegiatan bersama peresmian LRT. Jadi tidak bisa ditafsirkan bahwa ada agenda politik di pertemuan tersebut,” ujar Sugiat.