JAKARTA, AFU.ID — Rangkaian kegiatan Kemah Akbar yang diikuti oleh ratusan pelajar di bawah naungan yayasan pendidikan Muhammadiyah berakhir duka pada Minggu (06/09/2026). Dua siswa kelas VII Madrasah Tsanawiyah (MTs) Muhammadiyah 3 Al Furqan Banjarmasin, yakni Muhammad Farhan Alkatiri (13) dan Rizqi Adly Fakhrian (13), ditemukan tewas tenggelam di danau buatan kawasan Kampus Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB), Jalan Gubernur Syarkawi, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala.
Tragedi ini bermula dari agenda perkemahan yang berlangsung sejak Sabtu (05/09/2026). Memasuki fase penutupan acara dan persiapan kepulangan pada Minggu siang, para peserta sempat mengikuti sesi permainan outbound serta membersihkan diri atau mencuci kaki di sekitar area tepian kolam kampus. Sekitar pukul 14.00 WITA, panitia pelaksana melakukan proses absensi akhir untuk mendata seluruh peserta sebelum meninggalkan lokasi perkemahan.
Situasi berubah tegang saat nama Farhan dan Rizqi dipanggil berulang kali, namun keduanya tidak kunjung memberikan respons atau menampakkan diri di barisan. Mengetahui adanya peserta yang hilang, panitia beserta peserta lain langsung melakukan penyisiran di seluruh area perkemahan hingga ke sekitar danau buatan UMB. Pencarian mandiri tersebut akhirnya mengarah ke dasar kolam bervegetasi tanaman teratai, tempat kedua korban ditemukan tersangkut dalam kondisi sudah tidak sadarkan diri.
Proses evakuasi darurat langsung dilakukan oleh tim medis dan relawan di lokasi kejadian. Korban Farhan dilarikan ke Klinik Setara Handil Bakti, sementara Rizqi dirujuk ke RSUD dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin untuk mendapatkan resusitasi jantung paru (RJP). Namun, tim medis dari kedua fasilitas kesehatan tersebut menyatakan bahwa nyawa kedua remaja tersebut tidak dapat diselamatkan. Jenazah Farhan kemudian disemayamkan di rumah duka kawasan Antasan Kecil Barat, sedangkan jenazah Rizqi dibawa ke rumah duka di Kompleks Rahayu, Jalan Pramuka, Banjarmasin.
Data riset kawasan menunjukkan bahwa danau buatan di area Kampus Utama UMB merupakan bagian dari rancangan arsitektur floating campus seluas dua hektar yang dikelilingi perairan dengan kedalaman diperkirakan mencapai 10 meter. Kontur dasar kolam lumpur yang makin amblas saat dipijak serta ketiadaan pembatas pengaman di sepanjang tepian area cuci kaki diduga menjadi faktor risiko tinggi yang berujung pada kecelakaan air tersebut.
Hingga Selasa (08/09/2026), Satreskrim Polres Barito Kuala bersama Polsek Alalak masih melakukan penyelidikan intensif untuk mendalami dugaan unsur kelalaian dan standar pengawasan keselamatan selama perkemahan. Pihak kepolisian telah mengamankan lokasi kejadian serta mengumpulkan keterangan saksi guna memastikan konstruksi hukum terkait musibah mematikan ini. (RHU)