JAKARTA, AFU.ID — Sebanyak 75 tenaga kesehatan di Republik Demokratik Kongo terinfeksi Ebola saat menangani wabah yang masih meluas. Kondisi kamp pengungsian yang padat penduduk dan serba terbatas pun dikhawatirkan mempercepat penyebaran penyakit tersebut.
Lebih dari 270.000 orang, mayoritas perempuan dan anak-anak, saat ini berlindung di lebih dari 60 lokasi pengungsian di Provinsi Ituri. Banyak kamp dilaporkan tidak memiliki akses memadai terhadap air bersih, sanitasi, maupun layanan kesehatan dasar.
Situasi semakin mengkhawatirkan setelah sedikitnya 13 orang dilaporkan meninggal dunia di dua kamp pengungsian di Bunia dalam rentang 17–18 Juni 2026. Tim tanggap darurat kini menyelidiki kemungkinan keterkaitan kematian tersebut dengan wabah Ebola yang sedang berlangsung.
Sejak April 2026, sedikitnya 62 kematian telah tercatat di kamp-kamp pengungsian di sekitar Bunia. Kota yang menjadi ibu kota Provinsi Ituri itu kini berada di pusat penyebaran wabah Ebola di negara tersebut. PBB menilai kondisi kamp yang padat penduduk, rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan, serta lemahnya penerapan langkah pencegahan memperbesar risiko penularan.
Penanganan jenazah yang tidak aman juga disebut menjadi faktor yang mempercepat penyebaran penyakit. "Kematian-kematian ini terjadi di tengah merebaknya Ebola yang lebih luas di Bunia," kata Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), Jumat (19/6/2026).
Provinsi Ituri saat ini menjadi wilayah dengan jumlah kasus Ebola tertinggi di Republik Demokratik Kongo. OCHA mencatat lebih dari 90 persen kasus terkonfirmasi berasal dari provinsi tersebut.
Hingga pertengahan Juni 2026, otoritas setempat melaporkan sebanyak 896 kasus Ebola terkonfirmasi di Provinsi Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan. Dari jumlah tersebut, tercatat 232 orang meninggal dunia dan 78 pasien dinyatakan sembuh.
Wabah tersebut juga mulai memukul tenaga kesehatan yang berada di garis depan penanganan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sebanyak 75 tenaga kesehatan terinfeksi Ebola saat menjalankan tugas, sementara 17 di antaranya meninggal dunia.
WHO menilai tingginya angka infeksi di kalangan tenaga medis mencerminkan besarnya risiko yang dihadapi petugas di lapangan. Penularan Ebola juga dilaporkan semakin cepat dan kini telah menjangkau 33 zona kesehatan di tiga provinsi.
PBB bersama otoritas lokal dan sejumlah organisasi kemanusiaan kini berupaya memperkuat edukasi masyarakat serta meningkatkan layanan kesehatan dan sanitasi di kamp pengungsian. Namun, OCHA menyebut kebutuhan penanganan masih jauh lebih besar dibandingkan sumber daya yang tersedia, sementara pendanaan respons kemanusiaan 2026 baru terpenuhi sedikit di atas separuh target yang ditetapkan. (ANT/RAI)