TEHERAN, AFU.ID - Duka belum surut di Teheran ketika ancaman balasan langsung diumumkan ke publik. Beberapa jam setelah kabar wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, televisi pemerintah menyiarkan pernyataan keras dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
Kantor berita semi-resmi Tasnim News Agency melaporkan Khamenei meninggal dunia di kantornya di Teheran, menyusul serangan yang disebut dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat ke sejumlah titik strategis, termasuk kawasan ibu kota. Pemerintah Iran menyebut serangan tersebut sebagai agresi langsung terhadap kedaulatan negara.
Dalam pernyataan resmi yang dibacakan di siaran nasional, IRGC mengeluarkan ultimatum terbuka.
“Dalam beberapa saat, operasi ofensif paling brutal dalam sejarah angkatan bersenjata Republik Islam Iran terhadap Israel dan pangkalan teroris Amerika akan dimulai,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Serangan udara yang lebih dulu menghantam Iran dilaporkan merusak infrastruktur penting dan menimbulkan korban sipil. Pemerintah di Teheran menetapkan situasi darurat militer dan menegaskan bahwa respons akan dilakukan secara terbuka dan terukur.
Tak lama berselang, laporan awal menyebutkan rudal-rudal diluncurkan menuju wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Eskalasi ini menandai babak baru konflik yang sebelumnya sudah memanas dalam beberapa bulan terakhir.
Kematian Khamenei bukan sekadar kehilangan figur sentral dalam struktur politik dan keagamaan Iran. Ia selama lebih dari tiga dekade menjadi poros kekuasaan tertinggi, penentu arah kebijakan strategis, sekaligus simbol ideologi negara. Kepergiannya dalam situasi serangan militer mempercepat konsolidasi sikap keras di tubuh elite pertahanan.
IRGC menegaskan operasi yang disiapkan bukan balasan simbolik. Pernyataan mereka mengindikasikan langkah militer skala besar yang diklaim akan “mengubah peta konfrontasi” di kawasan.
Perkembangan ini segera memicu kekhawatiran global. Sejumlah negara besar menyerukan penahanan diri dan diplomasi darurat untuk mencegah konflik meluas. Timur Tengah, yang selama ini menjadi salah satu titik paling rapuh dalam geopolitik dunia, kembali bergerak menuju fase ketidakpastian yang lebih dalam. (bs)