JAKARTA AFU.ID — Negara Bagian Florida melayangkan gugatan perdata terhadap OpenAI dan CEO Sam Altman atas tuduhan membahayakan anak-anak melalui penggunaan ChatGPT.
“Hari ini kami umumkan bahwa kami baru saja mengajukan gugatan perdata monumental terhadap Sam Altman dan ChatGPT karena membahayakan anak-anak serta menipu orang tua dengan meyakinkan bahwa aplikasi ini aman digunakan, padahal jelas tidak,” ujar Jaksa Agung Florida, Uthmeier, dalam konferensi pers, Senin (1/6/2026).
Dalam dokumen gugatan, OpenAI dituduh melakukan praktik perdagangan menipu dan tidak adil, kelalaian, pelanggaran hukum tanggung jawab produk, pernyataan palsu, serta menimbulkan gangguan publik.
Dilansir dari VOI, gugatan tersebut menyebut sistem OpenAI dapat menimbulkan risiko kecanduan, penurunan kognitif, bunuh diri, kekerasan, dan bahaya lain. Florida menjadi negara bagian pertama yang menggugat OpenAI dan Altman terkait desain serta keselamatan produk.
Menurut Uthmeier, OpenAI dan Altman harus bertanggung jawab secara finansial atas tindakan menyesatkan tersebut. ChatGPT juga perlu memodifikasi programnya agar memiliki kontrol orang tua demi melindungi anak-anak.
“Kami akan menjadi negara bagian pertama yang mengajukan gugatan terhadap ChatGPT. Saya berharap negara bagian lain akan mengikuti, dan pada akhirnya mereka harus mengubah pemrograman,” tambahnya.
Dalam siaran pers terpisah, kantor Jaksa Agung menyatakan gugatan itu menuduh OpenAI dan Altman lebih mementingkan keuntungan komersial dibanding keselamatan pengguna sehingga mengabaikan berbagai peringatan dari pakar internal maupun eksternal, sambil mengeklaim aman digunakan.
Florida juga akan melanjutkan penyelidikan yang dimulai 22 April terkait kasus penembakan di Florida State University pada 2025, di mana pelaku disebut menggunakan kecerdasan buatan dalam aksinya.
Belum ada pernyataan resmi dari OpenAI terkait gugatan tersebut. Meski begitu, perusahaan sebelumnya menegaskan bahwa aspek keselamatan menjadi bagian utama dalam pengembangan sistemnya. OpenAI juga menyebut telah menerapkan berbagai perlindungan untuk membantu pengguna, khususnya remaja, saat percakapan mengarah pada topik sensitif.
“Kami terus meningkatkan pelatihan ChatGPT agar dapat mengenali dan merespons tanda-tanda tekanan mental atau emosional, meredakan percakapan, dan mengarahkan orang kepada dukungan di dunia nyata,” kata perusahaan itu dikutip NBC News. (ANT/RAI)