JAKARTA AFU.ID — Serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) yang dilancarkan Iran ke wilayah Kuwait mengakibatkan puluhan orang terluka. Korban terdiri dari warga sipil, penumpang pesawat, hingga staf bandara yang berada di lokasi saat serangan terjadi.
Kementerian Kesehatan Kuwait mencatat sedikitnya 63 orang mengalami luka-luka akibat serangan tersebut. Seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis di sejumlah rumah sakit.
Juru Bicara Kementerian Kesehatan Kuwait, Abdullah Al-Sanad, mengatakan sistem pelayanan kesehatan langsung diaktifkan secara penuh begitu serangan terjadi. Langkah darurat dilakukan untuk memastikan seluruh korban dapat segera ditangani.
"Sejak jam-jam pertama serangan Iran terhadap Kuwait, sistem pelayanan kesehatan telah dimobilisasi sepenuhnya," kata Al-Sanad, Rabu (4/6/2026).
Ia menjelaskan tujuh operasi darurat telah dilakukan terhadap korban yang mengalami luka berat. Sementara korban lainnya menjalani perawatan sesuai tingkat cedera yang dialami.
Menurut Al-Sanad, jenis cedera yang dialami korban cukup beragam. Mulai dari patah tulang, trauma kepala, hingga luka bakar akibat dampak ledakan.
Di tengah situasi tersebut, militer Kuwait mengerahkan sistem pertahanan udara untuk menghadapi serangan yang datang. Beberapa rudal dan drone berhasil dicegat sebelum mencapai sasaran.
Melalui pernyataan resminya, Staf Umum Angkatan Bersenjata Kuwait menyebut unit pertahanan udara sedang menghadapi sejumlah target musuh. Ledakan yang terdengar di berbagai wilayah disebut berasal dari proses intersepsi tersebut.
Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan telah melancarkan serangan balasan terhadap target-target militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Aksi itu dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan sekutunya dengan Washington.
Pemerintah Iran kemudian menuding sejumlah negara di kawasan terlibat dalam serangan terhadap Pulau Qeshm. Kuwait disebut sebagai salah satu pihak yang dianggap bertanggung jawab oleh Teheran.
"Kuwait menjadi salah satu pihak yang bertanggung jawab atas serangan terhadap Pulau Qeshm," demikian pernyataan yang disampaikan Kementerian Luar Negeri Iran.
Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan rudal-rudal Iran juga diarahkan ke Kuwait dan Bahrain. Namun sebagian besar proyektil disebut berhasil dicegat atau jatuh sebelum mencapai target.
CENTCOM menambahkan pasukannya turut menembak jatuh sejumlah drone yang mengarah ke fasilitas militer AS. Langkah itu dilakukan untuk mencegah korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur.
Konflik terbaru ini merupakan lanjutan dari eskalasi yang terjadi sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa dan kerusakan di sejumlah wilayah Iran.
Meski sempat tercapai gencatan senjata pada April lalu, upaya diplomasi lanjutan antara Washington dan Teheran belum membuahkan hasil sehingga ketegangan kembali meningkat di kawasan Timur Tengah. (ANT/RAI)