Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Update Korban Banjir Nepal: 1.225 Tewas, Ribuan Orang Masih Hilang, Keluarga Korban Mulai Gelar Pemakaman Simbolis
Bagikan:
Penulis: Raihan Immaduddin
Ringkasan Berita
Banjir bandang yang melanda kawasan perbatasan Nepal-China pada 26 Agustus 2026 telah mengakibatkan 1.225 orang tewas dan 4.757 orang masih hilang, dengan proses pencarian korban yang terus berlangsung di medan yang sulit. Keluarga korban di Nepal mulai menggelar pemakaman simbolis sebagai bentuk penghormatan, sementara otoritas setempat menghadapi tantangan dalam mengidentifikasi jenazah yang terus bertambah. Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, menyatakan bahwa tragedi ini merupakan peringatan serius terkait dampak perubahan iklim yang mempengaruhi kawasan Himalaya.
Operasi pencarian dan penyelamatan terus berlangsung setelah banjir bandang dan tanah longsor melanda wilayah perbatasan Nepal-Tiongkok di Nuwakot, Nepal, pada 26 Agustus 2026. (Antara)
JAKARTA, AFU.ID— Banjir bandang di kawasan perbatasan Nepal-China telah menewaskan 1.225 orang. Sebanyak 4.757 orang masih dinyatakan hilang hingga sepekan setelah bencana. Nepal mencatat, 1.204 korban meninggal dengan 4.216 orang belum ditemukan, sedangkan di Tibet, China, 21 korban tewas dan 541 orang hilang. Angka tersebut masih akan berubah karena proses pencarian korban terus berlangsung di tengah kondisi medan yang sulit.
Banjir bandang terjadi pada 26 Agustus 2026 ketika material es, batu, lumpur, dan puing-puing dalam jumlah besar menerjang kawasan Himalaya. Gelombang material tersebut menghantam permukiman dan infrastruktur di wilayah. Selain merusak rumah dan gedung, banjir juga menyebabkan jalan-jalan rusak sehingga memperlambat upaya penyelamatan. Tim darurat hingga kini masih menyisir sejumlah lokasi, termasuk terowongan pembangkit listrik tenaga air yang tertutup lumpur dan puing.
Sepekan setelah kejadian, keluarga korban yang belum ditemukan mulai menghadapi ketidakpastian. Sebagian keluarga di Nepal memilih menggelar pemakaman simbolis dengan membakar boneka jerami dalam ritual Hindu sebagai bentuk penghormatan sekaligus upaya membebaskan jiwa kerabat mereka. “Kami harus melakukan ini untuk membebaskan jiwanya, agar tenang dan bahagia di mana pun ia berada,” kata Dolma Newar Tamang yang kehilangan suaminya dalam bencana tersebut.
Sementara proses identifikasi berlangsung, pemerintah Nepal menghadapi persoalan jumlah jenazah yang terus bertambah. Kamar jenazah yang penuh membuat pihak berwenang menguburkan sejumlah jasad yang belum teridentifikasi setelah sampel DNA diambil, sedangkan ratusan warga negara asing turut masuk dalam daftar orang hilang. Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal mengatakan, harapan untuk menemukan korban dalam keadaan hidup belum sepenuhnya ditutup, meski pencarian telah memasuki hari ketujuh.
Besarnya dampak bencana memunculkan perhatian terhadap kondisi pegunungan Himalaya yang mengalami pemanasan lebih cepat dan mempercepat pencairan gletser. Perdana Menteri Nepal Balendra Shah menyebut, tragedi tersebut sebagai peringatan serius bagi negara-negara sekitar Himalaya dalam menangani dampak perubahan iklim. “Perubahan iklim adalah kontribusi global, dan respons terhadap bencana juga merupakan tanggung jawab global,” kata Shah. (RAI)