JAKARTA, AFU.ID — Jumlah korban tewas akibat banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang kawasan perbatasan Nepal dan China pada akhir Agustus 2026 terus bertambah. Hingga Rabu (16/09/26), otoritas Nepal mencatat sedikitnya 1.403 orang meninggal dunia, sementara ribuan lainnya masih dinyatakan hilang. Bencana tersebut menjadi salah satu yang paling mematikan di kawasan Himalaya dalam beberapa tahun terakhir.
Badan Nasional Pengurangan Risiko Bencana dan Penanggulangan Bencana Nepal menyebut sebanyak 13.742 orang berhasil diselamatkan sejak operasi pencarian dan evakuasi dimulai. Namun, proses pencarian masih berlangsung karena 6.150 orang belum ditemukan. Dari jumlah tersebut, sedikitnya 587 merupakan warga negara asing yang berada di wilayah terdampak ketika bencana terjadi.
Di sisi lain perbatasan, pemerintah China melaporkan 43 korban meninggal dunia dan 519 orang masih hilang di wilayah Tibet atau yang oleh Beijing disebut sebagai Daerah Otonomi Xizang. Dari total warga yang belum ditemukan tersebut, 261 orang merupakan warga negara asing. Tim penyelamat masih berupaya menjangkau sejumlah wilayah yang terisolasi akibat longsor dan kerusakan infrastruktur pascabencana.
Bencana bermula pada 26 Agustus 2026 ketika gletser di Gunung Langtang Lirung, Nepal, mengalami retakan pada ketinggian sekitar 5.200 meter. Retakan tersebut memicu longsoran es dan batu dalam jumlah besar yang kemudian berubah menjadi aliran material bercampur puing. Arus tersebut bergerak cepat menuruni lembah dan menghantam kawasan-kawasan permukiman di sepanjang jalur perbatasan Nepal-China.
Dampak terparah terjadi di sejumlah distrik Nepal, termasuk Rasuwa, Nuwakot, Dhading, dan Kavre. Aliran banjir dan material longsor juga mencapai Lembah Kathmandu yang menjadi pusat aktivitas ekonomi dan pemerintahan negara tersebut. Di wilayah China, pos perbatasan Gyirong dilaporkan tertimbun material longsoran sehingga menghambat akses evakuasi dan distribusi bantuan.
Besarnya jumlah korban hilang membuat otoritas kedua negara masih terus melakukan pencarian di tengah kondisi medan yang sulit. Sejumlah kawasan terdampak dilaporkan tertutup material longsor dalam volume besar, sementara cuaca di pegunungan masih menjadi tantangan bagi tim penyelamat. Pemerintah Nepal dan China juga terus mengoordinasikan operasi kemanusiaan untuk membantu korban serta memulihkan akses di wilayah yang terisolasi.
Bencana ini kembali menyoroti meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi dan longsoran di kawasan Himalaya yang memiliki banyak gletser aktif. Para ahli sebelumnya telah memperingatkan bahwa perubahan kondisi iklim dapat meningkatkan frekuensi retakan gletser, longsoran, dan banjir bandang di wilayah pegunungan yang padat penduduk. (RHU)