JAKARTA, AFU.ID — Banjir bandang dan longsor di Nepal menewaskan 165 warga dan ratusan orang masih dinyatakan hilang. Bencana tersebut menerjang wilayah di sepanjang aliran Sungai Bhote Koshi dan Trishuli, menyapu habis bangunan, jembatan, kendaraan, desa, dan pasar. Tim penyelamat masih melakukan pencarian korban di tengah timbunan lumpur dan material longsoran.
Penyebab bencana sempat dikaitkan dengan gempa setelah getaran berkekuatan magnitudo 4,4 tercatat di perbatasan Nepal-China pada pukul 08.37 waktu setempat. Namun, US Geological Survey (USGS) mengklarifikasi getaran tersebut bukan gempa bumi, melainkan efek dari tanah longsor dahsyat yang terjadi hampir bersamaan. Getaran akibat longsoran itu tercatat memiliki kekuatan setara gempa magnitudo 5,2.
Tim ilmuwan internasional menyebut bongkahan besar gletser runtuh dari pegunungan Himalaya, jatuh ke lembah dan memicu longsoran es menuju Sungai Lhende Khola. Material itulah yang diduga oleh para ilmuan penyebab aliran air dan lumpur bergerak deras ke wilayah hilir sungai. Meski demikian, penyebab pasti runtuhnya gletser dan banjir masih diteliti melalui citra satelit.
Dilansir AFP, rekaman kamera pengawas dari sisi perbatasan China memperlihatkan dinding lumpur dan puing menghantam bangunan bertingkat. Puluhan orang terlihat berusaha menyelamatkan diri, sementara bus dan mobil ikut tersapu arus deras. Di wilayah Tibet, tiga orang tewas dan 265 lainnya masih dinyatakan hilang akibat longsor di Pelabuhan Gyirong.
Dampak bencana juga dirasakan wisatawan yang berada di kawasan tersebut. Kementerian Pariwisata Nepal menyebut, sekitar 403 wisatawan, termasuk 341 warga asing, sempat tidak diketahui keberadaannya selama beberapa jam setelah bencana terjadi. Sementara itu, bantuan darurat mulai disalurkan, termasuk selimut, perlengkapan pertolongan pertama, tandu, dan kantong jenazah.
Operasi penyelamatan masih berlangsung di tengah kerusakan luas yang ditimbulkan banjir dan longsor. Pemerintah Nepal mengerahkan hampir 800 petugas tanggap darurat, 150 kendaraan, anjing pelacak, dan perahu cepat untuk membantu pencarian korban. “Rasa sakit dan kehilangan yang Anda alami tidaklah kecil,” kata Perdana Menteri Nepal Balendra Shah dalam pernyataan di media sosial, seraya memastikan pemerintah akan mengerahkan sumber daya untuk membantu warga terdampak. (RAI)