JAKARTA, AFU.ID — Banjir bandang yang menerjang Nepal terjadi setelah rangkaian peristiwa di kawasan Pegunungan Himalaya. Runtuhan gletser kemudian menyumbat aliran sungai hingga membentuk bendungan alami yang akhirnya jebol dan mengirim aliran air, lumpur, serta material batuan ke wilayah hilir. Wakil Ketua Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono mengatakan rangkaian tersebut merupakan contoh cascading hazard, yakni satu proses bencana yang memicu kejadian berikutnya dalam waktu relatif singkat.
"Fenomena ini menjadi bukti nyata bagaimana perubahan iklim global dapat memicu bencana beruntun (cascading hazard) dari puncak kriosfer hingga menghancurkan kawasan hilir dalam rentang waktu yang sangat singkat," ujar Daryono dalam keterangannya, Jumat (28/8/2026). Menurut Daryono, proses awal terjadi di wilayah Pegunungan Himalaya dengan elevasi tinggi.
Peningkatan suhu atmosfer mempercepat pencairan es sekaligus memengaruhi kestabilan gletser. Air hasil pencairan kemudian masuk melalui celah-celah gletser dan terkumpul di antara lapisan es dengan batuan penopang. Kondisi tersebut mengurangi daya gesek di dasar gletser sehingga massa es di lereng terjal semakin tidak stabil. Ketika mencapai kondisi kritis, massa es dan batuan dapat runtuh secara tiba-tiba.
Material yang jatuh dari ketinggian lebih dari satu kilometer kemudian menghantam dasar lembah dengan energi yang sangat besar. Daryono mengatakan benturan tersebut menghasilkan energi yang sangat besar hingga menghancurkan material es menjadi pecahan kecil, lumpur, dan air. "Energi kinetik yang sangat besar, sebanding dengan guncangan tektonik skala sedang (Mag. 5,0 - 5,2)," kata Daryono.
Material hasil runtuhan kemudian menutup aliran sungai di bagian bawah lembah. Tumpukan es dan longsoran membentuk bendungan alami sehingga air dari wilayah hulu tertahan dan terus terkumpul. Penumpukan air tersebut membentuk danau sementara. Ketika tekanan air semakin besar, struktur bendungan alami kehilangan kestabilannya dan akhirnya jebol.
"Ketika struktur penahan yang tak stabil tersebut mencapai batas ketahanan maksimumnya, bendungan debris jebol secara seketika (breach)," jelasnya. Jebolnya bendungan alami kemudian memicu outburst flood. Air dalam volume besar meluncur ke wilayah hilir dengan membawa lumpur, batuan, dan material debris. Aliran tersebut memiliki daya rusak tinggi karena membawa material dengan massa jenis lebih besar dibandingkan air biasa.
Material itu dapat merusak bantaran sungai, menghancurkan jembatan, serta menyapu bangunan dan infrastruktur di sepanjang aliran. "Daya hancur material aliran debris (debris flow) yang memiliki massa jenis jauh lebih berat daripada air biasa tersebut dengan mudah merobohkan benteng bantaran sungai, menghancurkan jembatan, serta menyapu bersih infrastruktur pemukiman warga di tepi aliran," kata Daryono.
Cepatnya rangkaian kejadian menjadi persoalan lain. Jeda antara jebolnya bendungan alami dan tibanya gelombang banjir di kawasan permukiman disebut sangat singkat, sehingga waktu untuk melakukan evakuasi menjadi terbatas. "Minimnya jeda waktu antara jebolnya benteng es dan datangnya gelombang air di kawasan permukiman hilir menyebabkan proses evakuasi tidak sempat dilakukan," jelas Daryono. (FAD)