JAKARTA, AFU.ID — Runtuhan gletser yang diduga memicu banjir bandang di perbatasan Nepal-Tibet menjadi peringatan bagi Pegunungan Alpen. Ahli glasiologi Olaf Eisen menilai gletser dan permafrost di kawasan pegunungan Eropa semakin tidak stabil akibat pemanasan global, meski skala bencananya diperkirakan tidak sebesar di Nepal. Banjir tersebut menewaskan sedikitnya 633 orang dan menyebabkan hampir 3.000 orang masih hilang hingga Sabtu (29/08/26).
Otoritas Nepal menduga bencana dipicu luapan danau glasial atau runtuhnya gletser di Himalaya. Air bercampur lumpur dan puing dilaporkan mengalir hampir 170 kilometer dari wilayah barat daya Tibet menuju Nepal tengah. Jarak aliran dan besarnya material membuat bencana ini dinilai jauh lebih besar dibandingkan keruntuhan gletser di Blatten, Swiss, pada Mei 2025.
“Bencana di Nepal, jika dilihat dari volume longsorannya, sekitar 10 hingga 20 kali lebih besar dibandingkan kejadian di Blatten,” kata Eisen, dikutip dari Euronews, Sabtu. Desa Blatten telah dievakuasi sebelum material batuan dan gletser runtuh, tetapi seorang pria berusia 64 tahun tetap meninggal dunia. Eisen merupakan profesor di Institut Alfred Wegener untuk Penelitian Kutub dan Kelautan serta Universitas Bremen.
Eisen mengatakan perubahan iklim meningkatkan ketidakstabilan kawasan pegunungan tinggi Eropa. Kenaikan suhu mempercepat penyusutan gletser dan pencairan permafrost, yakni lapisan tanah beku yang membantu menjaga kestabilan lereng. Wilayah pada ketinggian sekitar 2.500 hingga 3.000 meter di Prancis, Italia, Austria, dan Swiss dinilai paling rentan.
Permafrost yang mencair membuat dasar gletser kehilangan daya lekat pada batuan. Air lelehan juga dapat terkumpul di bawah lapisan es dan meningkatkan tekanan pada lereng. Ketika hujan deras atau gelombang panas datang, massa es dan batuan bisa terlepas secara tiba-tiba, lalu berubah menjadi aliran lumpur dan puing.
Risiko tersebut kini dipantau di Gletser Weisshorn East dekat Randa, Swiss. Status pemantauan dinaikkan ke level 3 pada 24 Agustus setelah sedikitnya tiga keruntuhan kecil terjadi di kawasan itu. Wali Kota Randa Frederic Imboden mengatakan permukiman belum terancam secara langsung, tetapi jalur pendakian dan rute bersepeda ditutup sebagai langkah pencegahan.
Swiss telah kehilangan sekitar 1.000 gletser sejak 1850. Di Gletser Marmolada, Dolomites, Italia, bongkahan es runtuh pada 2022 dan menewaskan 11 pendaki. Rangkaian peristiwa itu menunjukkan ancaman gletser juga dapat menyasar kawasan wisata dan permukiman di Eropa.
Di Nepal dan Tibet, operasi pencarian masih berlangsung setelah banjir menghancurkan permukiman serta infrastruktur di sepanjang aliran sungai. Otoritas juga mewaspadai danau baru yang terbentuk akibat runtuhan gletser karena airnya dapat meluap dan memicu banjir susulan. Angka korban masih berpotensi berubah karena tim penyelamat terus menyisir wilayah yang tertutup lumpur dan puing.
Eisen mengatakan pengurangan pemanasan global menjadi langkah utama untuk menekan risiko runtuhnya gletser. “Setiap penurunan suhu sepersepuluh derajat pun sangat berarti,” ujarnya. Menurut dia, penurunan suhu rata-rata memberi peluang bagi gletser untuk beradaptasi dan tumbuh kembali. (RHU)