JAKARTA, AFU.ID — Korban tewas akibat banjir bandang yang menerjang sejumlah wilayah Nepal bertambah menjadi 389 orang, sementara 910 lainnya masih dinyatakan hilang hingga Jumat (28/8/26). Operasi pencarian masih berlangsung di delapan distrik yang terdampak bencana. Di tengah proses tersebut, pemerintah Nepal juga mewaspadai ancaman banjir susulan setelah muncul genangan baru di kawasan hulu.
Genangan tersebut ditemukan di sekitar pertemuan Sungai Chhochen Khola dan Purepu Tsangpo. Ahli hidrologi Divisi Prakiraan Banjir Departemen Hidrologi dan Meteorologi Nepal (DHM), Binod Parajuli, memperkirakan sekitar 200.000 meter kubik air telah tertampung hingga Kamis pagi. Warga, wisatawan, dan petugas penyelamat di hilir Sungai Bhotekoshi diminta menjauhi kawasan yang berisiko terdampak apabila genangan kembali meluap.
Bencana sebelumnya diduga bermula dari tersumbatnya Sungai Lhende di dekat perbatasan Nepal-China akibat longsoran salju dan lapisan es. Material tersebut membendung aliran sungai hingga membentuk danau sementara dengan volume air diperkirakan mencapai 3 juta meter kubik. Bendungan alami itu kemudian jebol pada Rabu (26/8/26) dan melepaskan aliran air dalam jumlah besar ke wilayah hilir.
Pengamatan awal menunjukkan longsoran berasal dari wilayah Nepal sekitar 20 kilometer di timur laut Rasuwagadhi, dekat perbatasan China. Dugaan terbendungnya Sungai Lhende turut diperkuat analisis citra satelit dan informasi dari pihak China yang diterima melalui Kementerian Luar Negeri Nepal. Namun, penyebab yang memicu longsoran awal hingga kini masih dalam penyelidikan.
Besarnya dampak bencana juga terlihat dari banyaknya warga asing yang belum ditemukan. Dewan Pariwisata Nepal mencatat warga dari sedikitnya 31 negara masuk dalam daftar orang hilang, termasuk 178 warga India, 65 warga Amerika Serikat, 53 warga Ukraina, dan 51 warga Malaysia. Warga Australia, Inggris, Kanada, serta China juga dilaporkan termasuk dalam daftar pencarian.
Direktur Climate Analytics Asia Selatan di Nepal, Manjeet Dhakal mengatakan penelitian lebih jauh diperlukan untuk mengetahui kondisi yang memicu bencana di kawasan Himalaya. Menurut dia, kerja sama lintas batas dan penguatan sistem peringatan dini menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman serupa. Pemerintah Nepal masih melanjutkan pencarian korban sekaligus memantau sungai dan genangan baru yang berpotensi menimbulkan bencana susulan. (RHU)