JAKARTA, AFU.ID — Sebanyak 566 pelajar dan santri dari 19 sekolah atau lembaga pendidikan di Sidoarjo, Jawa Timur, diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa. Sebanyak 88 korban di antaranya dilaporkan masih menjalani perawatan di rumah sakit. Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Tanggulangin, yang memasok makanan tersebut dihentikan sementara untuk kepentingan investigasi.
Kepala SPPG Kalitengah Rafli Ridho meminta maaf dan mengaku menyesal atas insiden tersebut. Ia menyebut makanan matang dari dapur layanan gizi itu hanya bertahan sekitar empat jam pada suhu ruang sejak disalurkan. Rafli juga mengatakan setiap sekolah penerima seharusnya melakukan uji organoleptik oleh penanggung jawab sebelum makanan dibagikan.
Pengolahan menu dimulai pukul 05.30 WIB, kemudian makanan dikemas dan disalurkan ke lembaga penerima sekitar pukul 11.00 WIB. Menu yang dibagikan terdiri atas nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, tumis buncis baby corn, dan apel. Keluhan kesehatan dilaporkan dari Pondok Pesantren Manba’ul Hikam di Desa Putat serta sejumlah sekolah lain yang menerima pasokan dari SPPG yang sama.
Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satgas MBG Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengonfirmasi SPPG Kalitengah telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Asesmen sebelumnya menyatakan sarana-prasarana dapur memadai, tenaga penjamah makanan telah mengikuti sertifikasi, dan fasilitas tersebut juga memiliki sertifikat halal. Namun, sertifikasi itu tidak menutup kemungkinan adanya masalah pada bahan baku atau waktu pelaksanaan yang menyimpang dari prosedur operasional standar (SOP).
“SLHS ini menilai sistem dan sarpras. Tetapi tetap saja dengan sarpras dan sistem, masih ada ruang kalau misalnya katakan lah bahan makanannya dari awalnya, atau timing pelaksanaan menyimpang dari SOP yang diverifikasi, itu bisa saja menyebabkan masalah,” ujar Emil, Rabu (2/9/2026). Tim penanganan kini menelusuri kualitas bahan baku, kebersihan dapur, dan proses distribusi makanan. Sampel hidangan diperiksa di laboratorium untuk memastikan sumber kontaminasi.
Kepastian penyebab dugaan keracunan belum dapat disimpulkan sebelum hasil pemeriksaan resmi Badan Gizi Nasional (BGN) dan instansi terkait keluar. SPPG Kalitengah tetap ditutup sementara selama proses investigasi berlangsung. Penutupan itu dilakukan sebagai langkah pengamanan sekaligus evaluasi terhadap pemenuhan standar produksi dan distribusi MBG.
Emil mengimbau seluruh penerima pasokan MBG yang mengalami mual, muntah, diare, pusing, atau lemas segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Ia meminta warga tidak menyepelekan gejala atau hanya mengandalkan penanganan mandiri karena kondisi dapat memburuk. Korban diminta berobat tanpa mengkhawatirkan biaya penanganan. (RHU)