JAKARTA, AFU.ID — Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Soditan Lasem, Achmad Sholeh Syarifudin, menyampaikan permohonan maaf atas dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami ratusan siswa dan guru SMA Negeri 1 Lasem, Rembang, Kamis (3/9/2026). Ia mengatakan SPPG Soditan Lasem bertanggung jawab terhadap penanganan para siswa dan guru yang mengalami gangguan kesehatan. Pihaknya juga memastikan seluruh biaya pengobatan korban akan ditanggung. “Fokus utama kami saat ini adalah memastikan penanganan medis berjalan optimal tanpa membebankan biaya sepeser pun kepada korban,” ujar Achmad.
Ia menegaskan, siswa maupun guru yang mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan tidak perlu mengkhawatirkan biaya pengobatan. “Semua pengobatan kami pastikan gratis dan dicover total. Kami bertanggung jawab penuh atas pemulihan kesehatan para siswa dan guru,” tegasnya. Selain menangani para korban, SPPG Soditan Lasem menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap operasional dapur gizi. Evaluasi tersebut mencakup pemilihan bahan baku, proses pengolahan makanan hingga distribusi makanan ke sekolah penerima program. “Ini menjadi momentum bagi kami untuk melakukan evaluasi total. Kami akan memperbaiki seluruh prosedur standar operasional (SOP) agar kelalaian serupa tidak pernah terulang kembali di masa depan,” pungkasnya.
Sementara itu, sebanyak 18 orang menjalani perawatan medis di Puskesmas Lasem. Mereka terdiri dari 13 siswa SMA Negeri 1 Lasem dan lima guru. “Dari pengecekan di Puskesmas Lasem, ada 18 orang yang mendapatkan penanganan di UGD, terdiri dari 13 siswa dan 5 guru. Keluhannya badan lemas akibat diare,” jelas Kepala Puskesmas Lasem, dr. Joko Paryanto, MM, Kamis (3/9/2026) dikutip dari Harian Muria.
Setelah menjalani pemeriksaan dan observasi, kondisi sebagian besar pasien mulai membaik. Sebanyak 15 orang diperbolehkan pulang untuk melanjutkan pemulihan di rumah. Sedangkan tiga siswa masih harus menjalani perawatan karena kondisinya belum dinyatakan pulih sepenuhnya. Ketiganya terus mendapatkan pemantauan, terutama untuk mencegah dehidrasi akibat diare. “Yang tinggal tiga siswa. Kita anggap belum sembuh total, sehingga masih kita pantau supaya tidak terjadi dehidrasi,” jelas Joko.
Meski gangguan kesehatan muncul setelah para siswa dan guru mengonsumsi MBG, Puskesmas Lasem belum dapat memastikan bahwa makanan tersebut merupakan penyebab diare. Joko mengatakan pihaknya masih melakukan pendalaman untuk mengetahui penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para siswa dan guru. “Kami masih mendalami terkait penyebab diare,” ujarnya. (EER)