JAKARTA, AFU.ID — Informasi mengenai gas sulfur dioksida (SO2) dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang disebut mengarah ke Jabodetabek dan Banten ramai beredar di media sosial. Informasi tersebut memunculkan kekhawatiran karena SO2 dalam konsentrasi tinggi dapat berdampak terhadap kesehatan. Namun, Badan Geologi menjelaskan bahwa sebaran gas SO2 perlu dilihat berdasarkan konsentrasi dan ketinggian atmosfernya. Tidak semua wilayah yang berada di bawah lintasan sebaran gas otomatis mengalami paparan SO2 dalam konsentrasi berbahaya.
Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan, erupsi magmatik memang dapat melepaskan gas SO2 dalam jumlah besar. Gas tersebut kemudian dapat terbawa angin dan menyebar ke wilayah yang jauh dari sumber erupsi. “Jika gas SO2 mencapai altitude (ketinggian) atmosfer yang tinggi biasanya wilayah paparan gasnya juga berada di bagian atmosfer atas,” kata Lana dalam keterangannya, Minggu (6/9/2026).
Lana mencontohkan erupsi Gunung Ruang pada 2024. Saat itu, gas dilepaskan hingga ketinggian sekitar 5.000 meter di atas permukaan laut sehingga paparan gas di atmosfer tinggi dapat mencapai wilayah Sumatera. Sebaliknya, jika gas berada di lapisan atmosfer yang lebih rendah, paparan dapat berada lebih dekat dengan permukaan tanah sehingga berpotensi tercium masyarakat.
Kondisi tersebut, menurut Lana, juga terjadi pada erupsi Gunung Anak Krakatau. Gunung tersebut mengalami erupsi magmatik yang menghasilkan emisi SO2 dalam jumlah besar. Karena erupsinya berupa lava fountain, gas relatif berada pada ketinggian atmosfer yang lebih rendah. “Karena terbawa angin maka paparan gas SO2 dapat dirasakan atau tercium oleh masyarakat di wilayah Banten, Jabodetabek, ataupun Lampung,” ujarnya.
Apa Bahaya Gas SO2?
Sulfur dioksida merupakan gas yang dapat mengganggu kesehatan apabila konsentrasinya melebihi ambang normal. Paparan dalam kadar tinggi dapat menyebabkan iritasi pada mata dan saluran pernapasan. Gejalanya dapat berupa batuk dan sesak napas. Dalam kondisi paparan yang sangat tinggi, SO2 bahkan dapat menyebabkan gangguan serius pada sistem pernapasan.
Konsentrasi gas umumnya semakin rendah ketika semakin jauh dari sumber karena mengalami pengenceran oleh udara. Meski demikian, bau gas masih mungkin tercium meskipun konsentrasinya telah menurun. Lana juga menjelaskan bahwa peta SO2 yang beredar dari aplikasi Windy merupakan gambaran sebaran gas SO2 di atmosfer pada ketinggian tertentu yang terbawa angin. “Warna merah pada peta tersebut merupakan anomali keterdapatan gas SO2 pada konsentrasi yang lebih tinggi dari udara normal,” katanya.
Karena itu, masyarakat diminta tidak langsung menyimpulkan bahwa warna merah pada peta tersebut berarti seluruh wilayah di bawahnya sedang terpapar gas SO2 dalam konsentrasi berbahaya. Menurut Lana, sepanjang bau gas sulfur tidak tercium, masyarakat tidak perlu panik. Namun, apabila bau gas mulai tercium, masyarakat perlu mengurangi paparan dengan berlindung di dalam rumah dan menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai.
Masker respirator dengan cartridge atau filter khusus gas asam seperti SO2 dan H2S dapat digunakan. Jika tidak tersedia masker gas, masyarakat dapat menutup hidung dan mulut menggunakan kain basah sebagai langkah sementara. Masyarakat juga diminta menghindari paparan langsung. Selain itu, apabila terjadi hujan saat terdapat gas sulfur di atmosfer, air hujan berpotensi bersifat asam sehingga tidak disarankan untuk dikonsumsi. (EER)