Erupsi Gunung Anak Krakatau mengakibatkan penutupan enam bandara di Indonesia, termasuk Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Radin Inten II, selama empat jam ke depan akibat sebaran abu vulkanik yang masih terdeteksi. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menegaskan pentingnya keselamatan penerbangan dan melarang maskapai untuk memaksakan penerbangan dalam kondisi tersebut. Kemenhub juga berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memantau situasi dan menyediakan bandara alternatif guna mengantisipasi gangguan penerbangan.
Ilustrasi: Sejumlah pesawat udara dari berbagai maskapai terparkir di apron Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten. (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/wsj).
JAKARTA, AFU.ID – Erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak terhadap operasional penerbangan. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memperpanjang penutupan enam bandara yang terdampak sebaran abu vulkanik hingga empat jam ke depan. Enam bandara yang masih ditutup yakni Bandara Radin Inten II Lampung, Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Budiarto, Bandara Pondok Cabe, dan Bandara Husein Sastranegara.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan penutupan dilakukan setelah hasil pemantauan terakhir masih menunjukkan adanya abu vulkanik di keenam bandara tersebut. Kondisi itu membuat operasional penerbangan belum dapat dilakukan secara normal. “Dengan kondisi berdasarkan pemantauan terakhir di mana masih terdeteksi berdasarkan paper test-nya di keenam bandara yang tadi saya sebutkan, positif sehingga untuk 4 jam ke depan kami masih melakukan penutupan bandara,” kata Dudy dalam konferensi pers, Minggu (6/9/2026).
Kemenhub juga meminta maskapai tidak memaksakan penerbangan ketika kondisi belum memungkinkan. Aspek keselamatan dan keamanan penerbangan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan apakah penerbangan dapat tetap beroperasi. “Setiap penerbangan dan operasional harus dipastikan berjalan dengan baik serta memenuhi aspek kelaikudaraan dan keselamatan. Apabila kondisi belum memungkinkan, penerbangan tidak boleh dipaksakan,” ujar Dudy.
Kemenhub terus berkoordinasi dengan BMKG, PVMBG, AirNav Indonesia, pengelola bandara, maskapai, dan pihak terkait untuk memantau perkembangan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Dudy mengatakan kondisi sebaran abu dapat berubah sehingga keputusan mengenai operasional penerbangan akan terus disesuaikan dengan informasi terbaru.
Karena itu, maskapai diminta mengikuti perkembangan kondisi sebelum menjalankan penerbangan. Kemenhub juga meminta maskapai segera memberikan informasi kepada penumpang apabila penerbangan terdampak. Proses pembatalan maupun pengembalian dana tiket dapat dilakukan secara elektronik melalui email atau telepon sehingga penumpang tidak perlu datang ke bandara.
Untuk mengantisipasi gangguan penerbangan, Kemenhub menyiapkan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Bandara Ahmad Yani, dan Bandara Internasional Juanda sebagai bandara alternatif. Namun, pengalihan penerbangan tetap bergantung pada kemampuan maskapai atau operator untuk memindahkan operasional ke bandara alternatif tersebut. (FAD)