Kericuhan tersebut terjadi di tengah perdebatan mengenai aturan dalam pemilihan Ketua Umum PBNU. Ketua PBNU Bidang Media, IT, dan Advokasi Mohamad Syafi' Alielha atau Savic Ali mengatakan ketentuan masa iddah bagi calon ketua menjadi salah satu aturan yang dipertahankan. Menurut Savic, aturan organisasi tidak semestinya diubah hanya untuk menyesuaikan kepentingan pemilihan yang sedang berlangsung.
"Ini relatif ideal ya, karena aturan saudara kan enggak bisa diubah-ubah setiap saat untuk keberuntungan hari ini atau esok hari," kata Savic. Ia mengatakan sebelumnya ada aspirasi dari sejumlah pengurus cabang yang menginginkan masa iddah diturunkan menjadi enam bulan. Namun, usulan tersebut tidak disetujui para kiai sepuh NU. "Pada dasarnya sejumlah pihak setuju untuk diturunin 6 bulan, tetapi memang Kiai-Kiai Sepuh saya kira semangatnya cukup kuat untuk benar-benar NU itu kembali ke khittah," ujarnya.
Savic juga menyinggung aturan mengenai rangkap jabatan. Menurut dia, ketentuan tersebut tidak mengalami perubahan dalam Muktamar sehingga aturan sebelumnya tetap berlaku. "Misal kemarin soal bahwa rangkap jabatan tidak ada perubahan. Misal Sekjen yang sebelumnya juga ada aspirasi dari banyak warga Nahdliyin untuk juga tidak boleh merangkap sebagai menteri. Nah ternyata tidak berubah sehingga posisi Sekjen itu masih boleh merangkap sebagai menteri," katanya.
Savic berharap mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dapat menghasilkan Rais Aam yang mampu mengambil keputusan secara independen dan berpandangan jauh ke depan. Menurutnya, keterlibatan para kiai sepuh dalam mekanisme tersebut diharapkan membuat pemilihan lebih mempertimbangkan kebutuhan organisasi.
"Harapannya saya kira ini benar-benar, ya pertama bisa melahirkan pemimpin yang ideal karena yang memilih para Kiai-Kiai Sepuh. Sehingga lebih independen saya kira, lebih punya pertimbangan jauh ke depan," kata Savic. Ia juga berharap AHWA dapat menjadi alternatif di tengah persoalan politik uang dalam pemilihan kepemimpinan organisasi.
Savic mengaku belum mengetahui nama yang akan terpilih sebagai Rais Aam maupun Ketua Tanfidziyah PBNU. Menurutnya, seluruh nama yang masuk dalam AHWA masih memiliki peluang. "Saya kira sangat mungkin ada kejutan-kejutan. Tetapi, kita tahu bahwa di AHWA ya mewakili Kiai-Kiai Sepuh ya semoga bisa melahirkan benar-benar Rais Aam yang mendekati ideal warga NU dan menjadi ideal yang ada dalam AD/ART," ujarnya. (FAD)





























