JAKARTA, AFU.ID - Percakapan tajam dalam kanal Akbar Faizal Uncensored kembali membuka lapisan kegelisahan publik. Bersama Thomas Lembong, diskusi tak lagi sekadar opini—melainkan pembacaan situasi ekonomi yang dinilai kian mengkhawatirkan.
Di hadapan Akbar Faizal, Tom Lembong langsung menyorot gejala yang dirasakan masyarakat: lonjakan harga kebutuhan pokok dan pelemahan rupiah yang terus menekan. Ia menyebut kondisi ini bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan sinyal tekanan serius yang terakhir kali terasa saat krisis 1998.
Menurutnya, ketahanan ekonomi Indonesia sedang diuji dari berbagai sisi sekaligus—ruang fiskal yang menyempit, neraca pembayaran yang rapuh, serta arus modal yang tidak stabil. “Patut diragukan kita bisa bertahan sampai akhir tahun dengan tren seperti ini,” ujarnya lugas.
Dalam analisisnya, persoalan ekonomi hari ini bukan berdiri sendiri. Ia menilai sekitar dua pertiga masalah yang dihadapi saat ini merupakan “warisan struktural” dari kebijakan sebelumnya—terutama terkait desain anggaran dan beban utang. Namun yang menjadi sorotan, menurut Tom, adalah absennya kejujuran politik untuk mengakui kondisi tersebut secara terbuka.
Ia mengkritik atmosfer kekuasaan yang dinilai antikritik. Dalam situasi seperti ini, pembungkaman opini justru memperbesar risiko krisis. “Kalau masalah ditutup-tutupi, dia tidak hilang—dia meledak lebih besar,” tegasnya. Bagi Tom, ruang debat publik yang sehat adalah prasyarat untuk menemukan solusi kolektif.
Di level praktis, ia bahkan telah lama mengingatkan masyarakat untuk mengamankan aset dalam bentuk likuid dan diversifikasi mata uang seperti dolar AS atau dolar Singapura. Saran itu, menurutnya, terbukti relevan di tengah depresiasi rupiah dalam satu hingga dua tahun terakhir.
Tom juga menyinggung posisi Menteri Keuangan Indonesia sebagai “panglima” dalam krisis ekonomi. Ia tidak secara langsung menyalahkan, namun menekankan pentingnya sikap lebih terbuka, realistis, dan berani mengungkap kondisi sebenarnya kepada publik, termasuk soal warisan kebijakan masa lalu.
Lebih jauh, ia mengingatkan Indonesia sedang berpacu dengan negara lain dalam memperebutkan sumber daya global—mulai dari energi hingga modal investasi. Tanpa langkah cepat dan kebijakan yang jujur, Indonesia berisiko tertinggal dalam kompetisi global yang semakin ketat.
Menariknya, ketika ditanya kemungkinan kembali ke pemerintahan, Tom memilih menolak—kecuali ada perubahan mendasar. Baginya, solusi bukan sekadar pergantian orang, tetapi perubahan filosofi: keterbukaan, kebebasan berpikir, dan keberanian menghadapi realitas.
Diskusi ini berujung pada satu pesan kunci yang sederhana namun tajam: krisis tidak selalu datang tiba-tiba, tetapi sering diawali dengan penyangkalan. Dan bagi Tom Lembong, jalan keluar pertama adalah keberanian untuk jujur—sebelum semuanya terlambat. (*)