JAKARTA, AFU.ID — Dunia maya mendadak digegerkan oleh kemunculan sebuah rekaman video yang memperlihatkan sejumlah pria diduga warga negara Indonesia berada di tengah medan pertempuran perang Rusia-Ukraina. Dalam video yang beredar luas di media sosial tersebut, setidaknya dua orang yang diidentifikasi sebagai WNI tampak menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan mengenakan seragam tempur di kawasan garis depan pertempuran, berada dalam barisan pasukan militer Rusia.
Keberadaan rekaman tersebut kian menguat seiring keluarnya pernyataan resmi dari Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina (Foreign Intelligence Service of Ukraine/FISU). Lewat rilis di situs resminya, FISU mengungkap dokumen identitas yang mengindikasikan setidaknya ada delapan WNI yang telah direkrut masuk ke dalam angkatan bersenjata Federasi Rusia.
Intelijen Ukraina mengungkapkan, pihak Rusia memanfaatkan iming-iming finansial untuk menjaring personel dari luar negeri. "Janji berupa bayaran tinggi, tugas non-tempur, percepatan kewarganegaraan Rusia, dan tunjangan sosial menarik minat orang-orang yang—sering kali—tidak mengetahui ke mana sebenarnya mereka akan dikirim," tulis Intelijen Ukraina dalam situs resminya, dikutip Selasa (1/9/2026).
Menanggapi rilis data intelijen tersebut, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri langsung bergerak cepat melakukan penelusuran. Juru Bicara I Kemlu RI, Yvonne Mewengkang mengonfirmasi, pemerintah tengah mencermati informasi tersebut dan berkoordinasi erat dengan KBRI di Moskow serta kementerian dan lembaga terkait.
"Informasi mengenai identitas, status kewarganegaraan, proses perekrutan, serta bentuk keterlibatan individu yang disebutkan masih perlu dipastikan lebih lanjut," kata Yvonne.
Yvonne mengingatkan, Indonesia memiliki aturan hukum yang tegas terkait keterlibatan warga negara dalam kekuatan militer asing, yang berisiko pada kehilangan status kewarganegaraan RI. Namun, pemerintah juga membuka kemungkinan adanya unsur kejahatan dalam proses perekrutan tersebut.
"Pemerintah Indonesia juga akan mendalami kemungkinan adanya unsur penipuan, eksploitasi, atau perekrutan melalui tawaran pekerjaan yang tidak sesuai dengan tujuan sebenarnya. Apabila terdapat WNI yang menjadi korban dalam proses tersebut, Pemerintah Indonesia akan mengambil langkah pelindungan yang diperlukan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku," ujarnya.
Ia juga mengimbau agar masyarakat selalu waspada terhadap tawaran kerja di wilayah konflik. "Apabila keterlibatan WNI dalam angkatan bersenjata negara asing dimaksud terverifikasi, hal tersebut merupakan tindakan individual dan tidak merepresentasikan kebijakan maupun posisi Pemerintah Indonesia," tegas Yvonne . Ia menambahkan, Indonesia tetap konsisten mendorong penyelesaian damai serta penghormatan terhadap prinsip Piagam PBB dan hukum internasional.
Sorotan atas kabar ini turut datang dari parlemen. Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, meminta masyarakat tidak berspekulasi dan menunggu hasil verifikasi resmi dari pemerintah. "Informasi mengenai dugaan delapan WNI yang direkrut untuk bergabung dengan angkatan bersenjata Rusia tentu perlu menjadi perhatian bersama. Namun, kita juga perlu berhati-hati dan tidak mengambil kesimpulan sebelum identitas, proses perekrutan, serta bentuk keterlibatan mereka benar-benar terverifikasi," kata Dave.
Dave mengapresiasi langkah Kemlu dan menekankan pentingnya mengusut tuntas skema perekrutan agar WNI tidak terjebak modal iming-iming palsu di wilayah konflik. Menurut Dave, "Apabila dari hasil pendalaman ditemukan unsur penipuan, eksploitasi, atau jaringan perekrutan, tentu perlu ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku," ujar Politikus Partai Golkar tersebut.
Ia juga menyoroti pentingnya pencegahan dan perlindungan bagi warga negara agar kasus serupa tidak terulang di masa depan. "Pada saat yang sama, upaya pencegahan juga perlu terus diperkuat. Masyarakat, khususnya WNI yang memperoleh tawaran pekerjaan di wilayah konflik, perlu mendapatkan informasi yang memadai agar dapat memahami risikonya dan mengambil keputusan secara lebih hati-hati," kata Dave.
Dave berharap Kemlu segera menyampaikan hasil pendalaman terkait keberadaan delapan WNI tersebut. "Yang terpenting, keselamatan dan perlindungan WNI tetap menjadi prioritas, sekaligus memperkuat langkah pencegahan agar kasus serupa tidak kembali terjadi," pungkasnya. (MAR)