BMKG memperingatkan potensi hujan lebat dan angin kencang di sejumlah wilayah Indonesia pada Sabtu, 19 September 2026, dengan Jawa Barat berisiko mengalami hujan dengan intensitas tinggi. Meskipun sebagian besar wilayah masih berada dalam musim kemarau, fenomena atmosfer tertentu dapat memicu pertumbuhan awan hujan, terutama di Aceh, Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Masyarakat di wilayah tersebut diimbau untuk waspada terhadap dampak cuaca ekstrem, seperti pohon tumbang dan banjir lokal.
Ilustrasi hujan di jalan MH Thamrin dan Bundaran HI Jakarta. (Antara)
JAKARTA, AFU.ID — BMKG memperingatkan potensi hujan lebat dan angin kencang di sejumlah wilayah Indonesia pada Sabtu (19/9/2026). Jawa Barat menjadi wilayah yang berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat. Peringatan ini muncul di tengah kondisi sebagian wilayah Indonesia yang masih mengalami musim kemarau.
BMKG memprakirakan curah hujan pada Dasarian III September hingga Dasarian II Oktober 2026 secara umum masih berada pada kategori rendah hingga menengah, sekitar 0–150 milimeter per dasarian. Meski pasokan uap air relatif terbatas, sejumlah dinamika atmosfer tetap dapat memicu pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah.
Berdasarkan prakiraan BMKG, hujan sedang hingga lebat berpotensi terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua. Sementara itu, Jawa Barat diprakirakan mengalami hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat.
Potensi angin kencang juga terdapat di sejumlah wilayah, yakni Aceh, Maluku, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan. BMKG menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah dinamika atmosfer. Gelombang Rossby Ekuatorial diprediksi aktif di Kalimantan Utara dan Kalimantan Barat.
Adapun Gelombang Kelvin diprakirakan aktif di Kalimantan bagian timur, pesisir utara Jawa Timur hingga Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, serta Papua bagian barat dan utara. Aktivitas gelombang atmosfer tersebut dapat mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah yang dilaluinya. Selain itu, sirkulasi siklonik diprediksi terbentuk di Laut China Selatan.
Kondisi ini dapat memicu perlambatan dan pertemuan angin di sejumlah wilayah. Kondisi atmosfer lokal yang labil juga dapat memperkuat proses pengangkatan massa udara sehingga pertumbuhan awan hujan menjadi lebih optimal. Berikut daftar wilayah yang berpotensi mengalami hujan dan angin kencang pada Sabtu (19/9/2026):
BMKG juga mengingatkan bahwa musim kemarau tidak berarti hujan lebat sama sekali tidak terjadi. Dinamika atmosfer tertentu masih dapat memicu hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat. Masyarakat di wilayah yang masuk dalam daftar perlu mewaspadai potensi dampak cuaca buruk, termasuk pohon tumbang, genangan, banjir lokal, dan gangguan perjalanan. (FAD)