JAKARTA, AFU.ID — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 7.259 gempa susulan terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak 15 hingga 25 Agustus 2026 pukul 17.00 WITA. Data tersebut disampaikan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat penanganan bencana, Rabu (26/8/2026). Tingginya frekuensi gempa susulan disebut membuat banyak warga ketakutan dan memilih bertahan di lokasi pengungsian.
Suharyanto menjelaskan angka 7.259 merupakan jumlah kumulatif selama 11 hari, bukan catatan gempa dalam satu hari. Penjelasan itu disampaikan setelah Prabowo memastikan kembali periode penghitungan data tersebut. BNPB menyebut tidak ada gempa susulan yang kekuatannya menyamai gempa utama.
Gempa utama bermagnitudo 7,7 terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB. Pusat gempa berada di laut sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer. BMKG mengidentifikasi gempa tersebut dipicu aktivitas Sesar Naik Busur Belakang Flores atau Flores Back-Arc Thrust.
Jumlah 7.259 kejadian merupakan aktivitas seismik yang terdeteksi oleh jaringan pemantauan dan tidak berarti seluruh gempa dirasakan masyarakat dengan kekuatan yang sama. Namun, getaran yang terus berulang membuat sebagian warga belum berani kembali ke rumah. BNPB menilai kondisi psikologis tersebut turut menyebabkan jumlah pengungsi tetap besar meskipun sebagian tidak terdampak langsung oleh kerusakan bangunan.
Ketakutan warga juga dipengaruhi informasi yang beredar di media sosial mengenai kemungkinan gempa lebih besar dan tsunami. Suharyanto menegaskan informasi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat masyarakat memilih bertahan di pengungsian. Kabar mengenai waktu dan kekuatan gempa berikutnya tidak dapat diperlakukan sebagai prediksi yang telah dipastikan kebenarannya.
BMKG menegaskan gempa bumi belum dapat diprediksi secara pasti mengenai waktu, lokasi, dan kekuatannya. Masyarakat diminta tidak mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan serta hanya mengikuti pembaruan dari BMKG, BNPB, BPBD, dan pemerintah daerah. Peringatan dini tsunami akibat gempa utama NTT sebelumnya telah diakhiri BMKG pada 15 Agustus pukul 07.30 WIB setelah dilakukan evaluasi.
Rapat penanganan bencana tersebut dipimpin Prabowo di posko penanganan gempa NTT di Nagekeo. Pertemuan dihadiri unsur BNPB, kementerian, TNI, Polri, serta pemerintah daerah yang terlibat dalam penanganan darurat. Gempa utama dilaporkan berdampak terhadap sejumlah kabupaten di Pulau Flores dengan tingkat kerusakan yang berbeda.
Warga tetap diminta waspada terhadap gempa susulan dan menghindari bangunan yang mengalami kerusakan sebelum dinyatakan aman. Informasi mengenai potensi tsunami harus merujuk pada peringatan resmi BMKG, bukan pesan berantai atau unggahan media sosial yang tidak terverifikasi. Pemerintah juga perlu memperkuat penyampaian informasi di lokasi pengungsian agar kekhawatiran masyarakat tidak diperburuk oleh kabar yang keliru. (RHU)