JAKARTA, AFU.ID — Praktik pemeliharaan ayam petelur dalam sistem kandang baterai kembali menjadi sorotan tajam karena dinilai menyiksa hewan dan mengancam keamanan pangan masyarakat. Berada di ruang sempit seluas kertas A4, jutaan ayam petelur di Indonesia hidup dalam kondisi stres tinggi yang memicu risiko penyebaran penyakit zoonosis serta peningkatan penggunaan antibiotik berlebihan.
Persoalan krusial kesejahteraan hewan ini disuarakannya secara gamblang melalui pameran imersif Beyond the Cage yang diinisiasi oleh Act For Farmed Animals (AFFA) di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 5–7 September 2026. Pameran terbuka untuk umum ini membawa dokumentasi nyata penderitaan ayam petelur di dalam kandang kawat yang sempit ke hadapan publik, sekaligus mengampanyekan transisi menuju sistem cage-free atau bebas kandang baterai.
Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Ditjen PKH Kementerian Pertanian, Dr. drh. I Ketut Wirata, M.Si., menegaskan, kesejahteraan ayam petelur berbanding lurus dengan kualitas pangan yang dikonsumsi manusia. Melalui pendekatan One Health dan One Welfare, pemerintah mendorong industri dan peternak untuk mulai memanusiakan perlakuan terhadap hewan ternak demi menekan ketergantungan pada obat-obatan.
"Ketika ayam lebih bahagia dan tidak stres, penggunaan obat-obatan atau antibiotik dapat berkurang. Hal itu ikut mendukung bahan pangan yang lebih sehat," kata I Ketut Wirata saat memberikan sambutan kunci mewakili Kementerian Pertanian di Jakarta, Sabtu (5/9/2026).
Menurut data AFFA, sistem kandang baterai membatasi ruang gerak ayam petelur hanya sekitar 450 sentimeter persegi. Keterbatasan ekstrem ini membuat ayam tidak mampu mengepakkan sayap, bertengger, mandi debu, maupun mengekspresikan perilaku alaminya. Sebaliknya, sistem cage-free terbukti mampu menekan tingkat stres dan menurunkan risiko pemicu resistensi antimikroba pada produk telur yang dihasilkan.
Namun, transisi menuju peternakan yang lebih etis ini membutuhkan kepastian pasar serta komitmen dari industri skala besar seperti hotel, restoran, ritel, dan produsen makanan. I Ketut Wirata menuturkan, meskipun harga telur cage-free saat ini lebih tinggi sekitar 30 persen karena penyesuaian manajemen dan infrastruktur, nilai yang didapatkan konsumen jauh melebihi marjin harga tersebut.
"Yang dibeli adalah energi positif dan cinta," ujar I Ketut merujuk pada kondisi ayam yang dipelihara tanpa tekanan dan mampu menghasilkan pangan berkualitas tinggi.
Direktur Pelaksana AFFA Arie Utami menyampaikan, pameran ini dihadirkan untuk menggugah kepedulian publik dan pelaku usaha agar tidak lagi menutup mata terhadap proses di balik produksi telur di meja makan. Langkah transisi secara bertahap diharapkan dapat segera diimbangi dengan kebijakan pembelian beretika dari sektor bisnis hospitality dan manufaktur pangan.
Arie Utami juga mengimbau masyarakat dan pemangku kepentingan untuk mulai beralih mendukung sistem peternakan yang lebih bertanggung jawab demi kesehatan manusia dan kesejahteraan hewan. "Kami percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kecil," tegas Arie. (MAR)