JAKARTA, AFU.ID — Presiden Prabowo Subianto menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Selasa (1/9/2026) malam. Rangkaian kunjungan ini dijadwalkan berlangsung selama empat hari. EEF digelar di Vladivostok pada 1–4 September 2026 dan mempertemukan delegasi dari sekitar 80 negara. Presiden Rusia Vladimir Putin juga dijadwalkan hadir dalam forum tersebut, termasuk dalam sesi pleno bersama Prabowo.
Eastern Economic Forum merupakan forum ekonomi internasional yang diselenggarakan Rusia setiap tahun sejak 2015. “Forum ini dibentuk dengan tujuan utama menarik investasi ke kawasan Timur Jauh Rusia sekaligus memperkuat hubungan ekonomi dengan negara-negara Asia-Pasifik, kata pengamat ekonomi Rusia, Elena Teslova, seperti dikutip Anadolu, Rabu (2/9/2026). EEF diselenggarakan di Vladivostok, sebuah kota pelabuhan Rusia yang menghadap Samudra Pasifik. Kota ini berada lebih dari 6.000 kilometer sebelah timur Moskow dan secara geografis jauh lebih dekat dengan China dan Semenanjung Korea dibandingkan dengan pusat politik Rusia.
Vladivostok menjadi salah satu pintu masuk utama menuju kawasan Timur Jauh Rusia. Wilayah tersebut mencakup sekitar 40 persen luas daratan Rusia, tetapi hanya dihuni kurang dari 8 juta penduduk. Artinya, Rusia memiliki wilayah yang sangat luas, kaya sumber daya alam, tetapi relatif jarang penduduk. Rusia tidak hanya ingin menjual sumber daya alam dari kawasan tersebut. Pemerintah juga ingin menarik modal, membangun infrastruktur, menciptakan lapangan kerja dan membuat kota-kota di Timur Jauh lebih menarik untuk ditinggali.
Motto EEF tahun ini, "The Far East: Development for the Benefit of People", menggambarkan tantangan tersebut. Pembangunan tidak hanya diarahkan pada perdagangan dan investasi, tetapi juga kualitas hidup masyarakat. Forum ini menjadi semakin penting seiring perubahan peta ekonomi sejak pecah perang Rusia-Ukraina pecah pada 2022. Hubungan ekonomi Rusia dengan banyak negara Barat mengalami pembatasan. Dalam kondisi tersebut, Moskow semakin mengarahkan perdagangan, investasi dan kerja sama ekonominya ke China, India, Asia Tenggara dan negara-negara non-Barat lainnya.
Perubahan orientasi itu membuat posisi geografis Timur Jauh menjadi semakin strategis. Jika sebelumnya kawasan tersebut berada jauh dari pusat ekonomi dan politik Rusia, kini kedekatannya dengan Asia justru menjadi keunggulan. Dari kawasan inilah Rusia dapat mengembangkan jalur perdagangan menuju pasar China, Korea, Asia Tenggara dan kawasan Asia-Pasifik lainnya. Timur Jauh juga memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat besar, mulai dari minyak, gas alam, batu bara, kayu, mineral hingga hasil perikanan. Karena itu, pembahasan mengenai transportasi dan logistik menjadi salah satu agenda penting EEF. Rusia berkepentingan membangun koridor transportasi baru agar sumber daya dan produk dari wilayah timurnya dapat dikirim lebih efisien menuju pasar Asia.
Kehadiran Presiden Prabowo Subianto memiliki arti khusus dalam EEF tahun ini. Prabowo menjadi tamu asing utama dalam forum tersebut dan dijadwalkan mengikuti sesi pleno bersama Putin. Indonesia merupakan negara dengan populasi terbesar di Asia Tenggara sekaligus salah satu kekuatan ekonomi terbesar di kawasan. Karena itu, kehadiran kepala negara Indonesia menjadi sinyal bahwa Rusia ingin memperluas hubungan ekonominya tidak hanya dengan China dan negara-negara Asia Timur, tetapi juga dengan Asia Tenggara.
Prabowo sebelumnya juga menghadiri St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) pada 2025. Kunjungan ke EEF tahun ini menjadi kelanjutan dari keterlibatan Indonesia dalam forum ekonomi Rusia. Selain Indonesia, Myanmar juga mendapat posisi penting dalam agenda pleno melalui kehadiran Wakil Presiden Nyo Saw. China dan Mongolia tetap menjadi peserta rutin. China tahun ini diwakili Wakil Perdana Menteri Ding Xuexiang, sementara Mongolia mengirim perdana menterinya untuk tahun kedua berturut-turut.
Apa yang Dibahas di EEF?
Meski membawa banyak isu geopolitik, inti pembahasan forum ini tetap mengarah pada pembangunan ekonomi Timur Jauh Rusia. Salah satu agenda utamanya adalah konektivitas transportasi. Jarak yang sangat jauh menjadi tantangan besar bagi Rusia untuk menghubungkan kawasan timurnya dengan pusat ekonomi domestik maupun pasar Asia. Karena itu, forum membahas pembangunan koridor transportasi dan infrastruktur baru, termasuk bagaimana memperkuat integrasi ekonomi kawasan.
Sektor energi dan sumber daya alam juga menjadi perhatian utama. Rusia memiliki kepentingan besar untuk mengembangkan cadangan minyak, gas, batu bara dan mineral di kawasan Timur Jauh sekaligus menemukan pasar baru untuk komoditas tersebut. Namun agenda EEF tidak berhenti pada komoditas. Digitalisasi, kecerdasan buatan dan teknologi juga menjadi bagian pembahasan. Rusia ingin teknologi digunakan untuk mempercepat pembangunan wilayah timur yang luas tetapi memiliki kepadatan penduduk rendah.
Ada pula pembahasan mengenai sumber daya manusia, pariwisata, budaya dan ekonomi kreatif. Ini penting karena masalah Timur Jauh Rusia bukan hanya bagaimana membawa barang keluar dari wilayah tersebut, tetapi juga bagaimana membuat orang mau tinggal, bekerja dan membangun kehidupan di sana. Besarnya kepentingan ekonomi Rusia tercermin dari target kesepakatan yang akan dihasilkan dalam forum. Penyelenggara memperkirakan sekitar 380 kesepakatan akan ditandatangani dengan nilai mencapai sekitar 6,5 triliun rubel, atau sekitar US$75 miliar.
Nilai tersebut mencakup berbagai sektor strategis, terutama transportasi, energi, sumber daya alam, teknologi dan pembangunan kawasan. Namun angka investasi tersebut sebaiknya tidak hanya dibaca sebagai nilai transaksi bisnis. Di baliknya terdapat strategi Rusia untuk menjadikan Timur Jauh sebagai penghubung antara sumber daya domestik dan pasar Asia.
Selama beberapa dekade, pusat gravitasi ekonomi dan politik Rusia lebih banyak mengarah ke Eropa. Namun tekanan geopolitik dan perubahan hubungan dengan negara-negara Barat mendorong Moskow memperkuat hubungan dengan Asia. Vladivostok bukan sekadar lokasi penyelenggaraan forum. Kota tersebut merupakan simbol dari arah baru Rusia. Rusia memiliki wilayah luas yang menghadap Asia-Pasifik, sementara negara-negara seperti China, Korea Selatan, Jepang dan negara-negara Asia Tenggara berada di seberang kawasan tersebut. Jika konektivitas dan investasinya berhasil dikembangkan, Timur Jauh dapat berubah dari wilayah yang selama ini dianggap terlalu jauh dan sulit dikembangkan menjadi salah satu pusat perdagangan Rusia. (EER)