JAKARTA, AFU.ID — Jual beli lisensi wajah untuk kebutuhan konten berbasis kecerdasan buatan (AI) mulai marak di China. Warga biasa dapat menawarkan kemiripan wajah mereka kepada pembuat konten untuk digunakan dalam drama pendek, iklan, film, hingga permainan. Transaksi yang sebelumnya banyak berlangsung di grup percakapan industri film dan televisi mulai berpindah ke platform publik sejak April.
Sejumlah platform kini mempertemukan pemilik wajah dengan kreator yang membutuhkan aktor digital. Laporan National Business Daily menyebut seorang karyawan bank bahkan memperoleh hampir 2.500 yuan atau sekitar Rp6,6 juta setelah sebuah perusahaan periklanan membeli potretnya sebanyak tujuh kali dalam tiga hari. Fenomena ini membuat warga dapat menentukan sendiri tarif dan batas penggunaan wajah mereka dalam produksi digital.
Salah satu platform yang menyediakan layanan tersebut adalah Yuanxiang Xinsheng yang berbasis di Shenzhen dan diluncurkan pada Mei. Pengguna dapat membuat profil aktor digital setelah melakukan registrasi dan verifikasi identitas. Mereka kemudian dapat menentukan syarat penggunaan wajah, mulai dari durasi lisensi, jenis konten yang dilarang, hingga hak adaptasi sekunder.
Biaya otorisasi di platform tersebut bervariasi, mulai dari 50 yuan atau sekitar Rp133 ribu hingga 100.000 yuan atau sekitar Rp266 juta. Seorang pria berusia 34 tahun bernama Chen, misalnya, memasang tarif 99 yuan atau sekitar Rp263 ribu untuk satu kali penggunaan wajahnya. Ia mengizinkan wajahnya digunakan dalam produksi bertema romantis dan keluarga, tetapi menolak konten horor serta seksual eksplisit.
Sementara seorang perempuan asal Guangdong bernama Kele bergabung dengan platform tersebut untuk mengendalikan penggunaan identitas digitalnya. “Saya tidak lagi khawatir AI mencuri wajah saya. Jika seseorang ingin menggunakannya, mereka harus membayar saya,” ujarnya, dikutip dari SCMP, Sabtu (19/9/2026). Platform tersebut juga membedakan antara lisensi penggunaan wajah dan hak untuk melatih model AI.
Pembelian lisensi tidak otomatis memberikan hak kepada pengguna untuk menggunakan wajah tersebut sebagai data pelatihan AI, kecuali ada kesepakatan khusus. Jenis penggunaan yang ditawarkan mencakup iklan televisi, pembuatan model, film, animasi, hingga permainan. Salah satu aktor digital yang banyak digunakan di platform tersebut adalah seorang perempuan bernama Lin.
Empat pilihan lisensi wajahnya masing-masing dibanderol 500 yuan atau sekitar Rp1,3 juta. Profil Lin memungkinkan wajahnya digunakan untuk sejumlah karakter dan situasi, termasuk karakter jahat, pakaian terbuka, identitas asing, hingga adegan kematian.
Muncul Kekhawatiran Privasi
Di tengah berkembangnya pasar lisensi wajah, muncul persoalan mengenai privasi dan persetujuan penggunaan data biometrik. Sejumlah ahli hukum menyoroti persoalan tersebut, terutama terkait data wajah anak di bawah umur. Pengacara dari Firma Hukum Hairun Tianrui, Dai Yue, mengatakan terdapat kontrak tertentu yang mengharuskan pengguna melepaskan klaim terkait potret, suara, nama, serta hak pribadi lainnya.
Pengguna juga dapat dikenai denda setidaknya 50.000 yuan atau sekitar Rp131,8 juta apabila mencabut otorisasi sebelum masa penggunaan berakhir. Di sisi lain, kewajiban platform terhadap keterlambatan pembayaran disebut jauh lebih rendah. Beijing News melaporkan, sejumlah platform lisensi data wajah menggunakan perjanjian yang dinilai lebih menguntungkan operator dibandingkan pengguna.
Perkembangan pasar tersebut memperlihatkan munculnya model baru pemanfaatan identitas digital di China. Wajah seseorang kini dapat diberikan lisensi untuk kebutuhan produksi konten AI, dengan tarif dan batas penggunaan yang ditentukan melalui perjanjian. (FAD)