JAKARTA, AFU.ID — Kasus keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi. Kali ini puluhan siswa SDN Beber, Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), mendadak dilarikan ke Puskesmas Aik Darek pada Jumat (11/9/2026), sekitar pukul 10.40 WITA. Berdasarkan rekaman video yang beredar luas di media sosial, suasana panik tampak jelas ketika para orang tua dan warga berbondong-bondong mengevakuasi anak-anak mereka menggunakan kendaraan pribadi maupun sepeda motor agar segera mendapatkan pertolongan medis.
Koordinator Wilayah (Korwil) Badan Gizi Nasional (BGN) NTB Eko Prasetyo saat dikonfirmasi membenarkan adanya insiden keracunan yang menimpa para siswa SDN Beber tersebut. "Betul," ujar Tyo singkat. Ia menyatakan, jajarannya langsung bergerak cepat melakukan validasi serta pendataan di lapangan guna memastikan kronologi lengkap dan jumlah pasti korban terdampak.
Laporan awal mengenai peristiwa ini juga telah diteruskan secara berjenjang kepada pimpinan pusat di Jakarta untuk segera ditindaklanjuti. Namun belum diketahui pasti apakah kasus keracunan ini memang berasal dari menu MBG yang disantap para siswa. Pemeriksaan masih terus dilakukan, sementara para korban masih terus ditangani pihak puskesmas.
Rentetan kejadian keracunan MBG ini menjadi pertanyaan besar/ Di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, bahkan resmi menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) menyusul lonjakan kasus dugaan keracunan makanan yang menimpa para siswa akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Jumlah korban tercatat melonjak hingga mencapai 265 orang, dengan 54 siswa di antaranya terpaksa harus menjalani rawat inap intensif di sejumlah fasilitas kesehatan seperti RSUD R.A.A. Soewondo, RS Keluarga Sehat Hospital, RS Mitra Bangsa, dan RSUD Fastabiq Sehat.
Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Pati Risma Ardhi Chandra menegaskan, penetapan status KLB ini diambil semata-mata karena keselamatan dan nyawa anak-anak didik menjadi prioritas mutlak yang harus diselamatkan terlebih dahulu. Kebijakan darurat ini juga memastikan seluruh pembiayaan perawatan medis para korban ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah daerah bersama Badan Gizi Nasional (BGN), sehingga para orang tua tidak perlu merasa ragu untuk segera membawa anak mereka ke rumah sakit apabila merasakan gejala gangguan kesehatan.
Berdasarkan data penanganan di lapangan, insiden ini tidak hanya melibatkan ratusan siswa dari MTsN 3 Pati dan SMPN 1 Gembong, tetapi juga menjangkau 11 siswa dari MTs Manba’ul Ulum Bermi yang mulai merasakan gejala mual, pusing, hingga diare pada malam hari setelah menyantap paket menu nasi bakar. Wakil Kepala Bidang Kesiswaan MTs Manba’ul Ulum Bermi Ahmadi Rozaq menuturkan, pihak sekolah langsung bergerak cepat melakukan penyisiran ke seluruh ruang kelas dan pondok pesantren terintegrasi untuk melarikan siswa yang tampak lemas ke puskesmas.
Menanggapi rentetan kejadian keracunan MBG ini, Wakil Kepala BGN Trenggono menegaskan, lembaganya berkomitmen mengevaluasi tata kelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara menyeluruh. Di Kabupaten Pati sendiri, pemerintah bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) berencana menyisir dan memeriksa langsung seluruh 172 SPPG mulai pekan depan.
"Yang jelas semua akan ditangani oleh pemerintah daerah maupun dari BGN. Jadi, tidak ada masalah untuk biayanya, sudah diatasi semua baik dari pemda maupun BGN. Harapannya tentu tidak ada lagi makanan MBG yang disiapkan menimbulkan kejadian seperti ini," kata Trenggono.
Pemeriksaan tersebut tidak hanya berfokus pada kelayakan fisik fasilitas dapur, melainkan juga mencocokkan kapasitas produksi dengan jumlah penerima manfaat agar tidak terjadi ketidakseimbangan porsi. BGN tidak segan-segan menjatuhkan sanksi tegas berupa penghentian sementara (suspend) hingga penutupan permanen bagi dapur penyedia MBG yang terbukti mengabaikan standar operasional prosedur (SOP) keamanan pangan.
Sementara itu, sampel sisa makanan dari para korban saat ini masih diuji di laboratorium untuk memastikan penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para siswa. "Semenjak kepemimpinan yang baru, kami sudah berupaya semaksimal mungkin memperbaiki tata kelola, kemudian menyiapkan dapur-dapur ini dengan baik. Namun, di antara semua, ada satu-dua mungkin yang tidak sesuai dengan SOP, tidak patuh terhadap tahapan-tahapan penyiapan makanan. Ini yang harus kita evaluasi terus," kata Trenggono. (MAR)