JAKARTA, AFU.ID - Ratusan pelajar dan puluhan guru dari dua sekolah menengah pertama di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, diduga mengalami keracunan massal usai menyantap hidangan dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (4/9/2026). Peristiwa tragis ini menimpa 127 siswa dari SMP Negeri 1 Makale, 25 siswa dari SMP Negeri 2 Makale, serta 20 orang guru. Para korban dilarikan ke tiga rumah sakit berbeda—RS Fatimah, RS Sinar Kasih, dan RS Lakipadada—setelah mengeluhkan gejala mual, pusing, dan muntah pascakonsumsi makanan tersebut.
Kepolisian Resor Tana Toraja bergerak cepat mengisolasi kasus ini dengan menerjunkan tim penyidik ke lokasi sekolah dan fasilitas penyedia. Kapolres Tana Toraja, AKBP Budi Hermawan, mengonfirmasi bahwa sampel makanan yang dikonsumsi para korban telah disita dan dikirim ke Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Sulawesi Selatan untuk menguji kandungan bahan mikrobiologi maupun zat kimia berbahaya di dalamnya.
Sebagai langkah tanggap darurat, kepolisian menghentikan sementara seluruh operasional pendorongan dan penyaluran makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Batupapan. Dapur penyedia tersebut dibekukan dari aktivitas produksi hingga hasil uji laboratorium resmi dirilis. Petugas juga berupaya mengamankan sampel pembanding langsung dari dapur SPPG guna memetakan kemungkinan kelalaian standar higienitas dalam proses pengolahan bahan pangan.
Polres Tana Toraja menegaskan proses hukum berjalan paralel dengan fokus penanganan medis para korban. Polisi mendalami seluruh potensi penyebab, mulai dari dugaan kelalaian prosedur sanitasi di dapur masak, kontaminasi bahan baku, hingga penyimpangan skema penyimpanan makanan saat distribusi. AKBP Budi mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi liar dan menunggu hasil pemeriksaan resmi dari laboratorium BPOM.
Insiden di Tana Toraja ini menambah panjang rentetan kasus keracunan makanan dalam implementasi program MBG di berbagai daerah. Pakar Kebijakan Publik Universitas Hasanuddin, Andi Luhur Prianto, menilai pengawasan dan verifikasi kelayakan dapur SPPG daerah kerap menjadi titik lemah yang krusial. Menurutnya, percepatan distribusi program nasional tanpa diimbangi pengawasan standar Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) yang ketat pada vendor lokal berisiko tinggi mengancam keselamatan para penerima manfaat.
Saat ini, kondisi mayoritas siswa dan guru yang dirawat di tiga rumah sakit dilaporkan mulai membaik dan stabil secara medis. Penyidikan Polres Tana Toraja dipastikan terus berlanjut untuk menentukan ada atau tidaknya unsur pidana kelalaian dalam kasus keracunan massal yang melibatkan ratusan korban ini. (RHU)