Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Daftar Ketua Umum PBNU dari Masa ke Masa: Dari Hasan Gipo hingga Gus Kikin
Bagikan:
Penulis: Raihan Immaduddin
Ringkasan Berita
KH Abdul Hakim Mahfudz, atau Gus Kikin, terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk masa khidmah 2026–2031 dalam Muktamar ke-35 di Jombang, Jawa Timur, menjadikannya sebagai pemimpin terbaru dalam sejarah organisasi yang telah ada sejak 1926. Sebelum Gus Kikin, sejumlah tokoh terkemuka lainnya memimpin PBNU, termasuk Gus Dur dan KH Said Aqil Siroj. Gus Kikin, yang juga merupakan cicit pendiri NU, diharapkan dapat menjalankan agenda organisasi dengan efektif, melengkapi kepemimpinan yang juga mencakup KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam untuk periode yang sama.
KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin resmi terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031. (Pesantren Tebuireng Jombang)
JAKARTA, AFU.ID—KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin resmi terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031 dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8/2026). Penetapan tersebut menambah panjang daftar tokoh yang pernah memimpin jajaran Tanfidziyah PBNU sejak organisasi berdiri pada 1926. Sebelum Gus Kikin, posisi tersebut telah diisi sejumlah tokoh dengan latar belakang dan periode kepemimpinan yang berbeda.
Ketua Umum PBNU pertama adalah KH Hasan Gipo yang memimpin pada 1926–1929. Setelah itu, posisi tersebut diteruskan KH Ahmad Noer pada 1929–1937, lalu KH Mahfudz Siddiq pada 1937–1944. Kepemimpinan berikutnya berada di tangan KH Nahrawi Tahir pada 1944–1951, dilanjutkan KH Abdul Wahid Hasyim pada 1951–1954. KH Muhammad Dahlan kemudian memimpin PBNU pada 1954–1956, disusul KH Idham Chalid yang menjadi salah satu ketua umum dengan masa kepemimpinan terpanjang, yakni 1956–1984. Setelah Idham Chalid, jabatan tersebut beralih kepada KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang memimpin pada 1984–1999.
Memasuki Era Modern
Setelah Gus Dur, KH Ahmad Hasyim Muzadi memimpin PBNU selama 1999–2010 lalu digantikan KH Said Aqil Siroj yang menjabat pada 2010–2021. KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya terpilih dalam Muktamar ke-34 NU pada 2021 untuk masa khidmah 2022–2026. Dalam pemilihan tersebut, Gus Yahya memperoleh 337 suara dan mengungguli Said Aqil Siroj yang meraih 210 suara.
Periode Gus Yahya berakhir setelah Muktamar ke-35 NU menetapkan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU 2026–2031. Sebelum keputusan tersebut, Gus Kikin menjadi kandidat dengan perolehan suara tertinggi dalam penjaringan calon ketua umum dengan 472 suara, mengungguli KH Zulfa Mustofa dengan 262 suara dan KH Abdussalam Shohib dengan 261 suara. Dua kandidat lainnya adalah KH Yahya Cholil Staquf dengan 258 suara dan KH Abdul Ghofar Rozin dengan 155 suara.
Penetapan Gus Kikin dilakukan melalui musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) setelah lima nama calon dinyatakan memenuhi persyaratan. Sembilan anggota AHWA bermusyawarah di Ndalem Kasepuhan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas selama sekitar 40 menit pada Senin pagi. KH Anwar Iskandar kemudian membacakan keputusan tersebut dalam Sidang Pleno V Muktamar ke-35 NU di Gedung Serbaguna Pondok Pesantren Bahrul Ulum.
Gus Kikin bukan nama baru dalam struktur NU karena sebelumnya pernah menjadi salah satu Ketua PBNU dan memimpin Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Ia juga merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng setelah KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah wafat pada 2020. Dari jalur ibunya, Gus Kikin adalah cicit KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU.
Secara struktur, Ketua Umum PBNU adalah pimpinan tertinggi dalam jajaran Tanfidziyah yang bertugas menjalankan program dan agenda organisasi. Sementara, kepemimpinan keagamaan dan fungsi pengarahan serta pengawasan berada pada Rais Aam bersama jajaran Syuriyah. Karena itu, terpilihnya Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU melengkapi kepemimpinan baru NU setelah KH Miftachul Akhyar kembali ditetapkan sebagai Rais Aam untuk masa khidmah 2026–2031. (RAI)