JAKARTA, AFU.ID — Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali mengalami erupsi menerus pada 5 September 2026, berlangsung sejak pukul 23.07 WIB hingga 04.40 WIB. Aktivitas erupsi ini diduga menjadi penyebab munculnya suara dentuman yang dilaporkan didengar masyarakat di tiga provinsi berbeda. Hal tersebut diungkapkan Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria.
Laporan suara dentuman dan getaran datang dari warga di wilayah Jawa Barat termasuk Bandung Raya, Banten, dan Lampung. Waktu munculnya dentuman tersebut bersamaan dengan waktu erupsi yang tengah dipantau oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi. "Erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur merupakan fenomena yang umum terjadi," ujar Lana di Bandung, Sabtu (5/9/2026).
Meski jarak Bandung Raya cukup jauh dari lokasi gunung, dentuman tetap bisa terdengar sampai ke lokasi tersebut. Fenomena itu, kemungkinan besar dipicu oleh ekspansi cepat pelepasan gas, ditambah gesekan dan turbulensi aliran lava berkecepatan tinggi di dalam konduit atau lubang kepundan gunung. Gelombang suara atau tekanan udara berfrekuensi rendah memang mampu merambat hingga ratusan kilometer melalui atmosfer.
Lapisan udara dan angin di ketinggian disebut dapat membelokkan jalur rambatan suara akibat perubahan suhu dan tekanan, sehingga suara bisa kembali turun ke permukaan meski sudah jauh dari titik sumbernya. "Hingga suara bisa turun kembali jauh dari sumber. Yang terasa di Bandung yang berjarak 700 km (garis lurus) adalah dentuman, kaca dan pintu bergetar," ucapnya.
Berdasarkan hasil pemantauan PVMBG, erupsi yang terjadi pada rentang waktu tersebut turut disertai suara gemuruh yang bahkan terdengar hingga ke Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran, Banten. Dari pengamatan visual, tampak semburan berwarna merah menyala yang berlangsung terus-menerus. Meski ketinggian pasti kolom erupsi belum dapat dipastikan, karakter semburan yang teramati menyerupai fenomena lava fountain atau lava air mancur yang berpotensi menghasilkan aliran lava.
Saat ini, status aktivitas Gunungapi Anak Krakatau berada di Level III atau Siaga. "Radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau harus dikosongkan dari aktivitas masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki. Ketentuan ini perlu dipatuhi karena potensi aliran lava dan lontaran material pijar masih dapat terjadi," pungkasnya. (NAD)