Menteri Kebudayaan Fadli Zon meluncurkan lima jilid buku berjudul *Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global* yang membahas perjalanan sejarah Indonesia dari akar peradaban Nusantara hingga terbentuknya negara kolonial. Setiap jilid memiliki fokus berbeda, mulai dari kondisi awal Nusantara, hubungan perdagangan dengan India, Tiongkok, dan Persia, interaksi dengan Timur Tengah, hingga kompetisi dan aliansi dengan kekuatan Barat. Penyusunan buku ini melibatkan 123 pakar dari 34 perguruan tinggi dan 11 lembaga independen, dengan versi digital yang dapat diakses secara gratis melalui platform Pustaka Budaya.
Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon saat ditemui di Kantor PBNU, Jakarta, Senin (21/7/2025). (ANTARA/Sean Filo Muhamad)
JAKARTA, AFU.ID — Menteri Kebudayaan Fadli Zon meluncurkan lima jilid pertama buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global pada Senin (31/8/2026). Kelima jilid tersebut membahas perjalanan sejarah Indonesia dari akar peradaban Nusantara hingga terbentuknya negara kolonial. Lima jilid yang diluncurkan merupakan bagian dari rangkaian buku sejarah Indonesia yang disusun secara bertahap.
Fokus pembahasannya dimulai dari kondisi Nusantara sebelum berhubungan intensif dengan dunia luar, kemudian berkembang ke hubungan perdagangan dan kebudayaan dengan berbagai kawasan hingga masuknya kekuatan Barat. Pada Jilid I, buku mengangkat tema “Akar Peradaban Nusantara”. Pembahasannya mencakup fondasi biologis, ekologis, sosial, dan kultural masyarakat Nusantara sebelum perjumpaan intensif dengan peradaban dari luar.
Jilid II berjudul “Nusantara dalam Jaringan Global”. Fadli mengatakan jilid ini membahas perjumpaan Nusantara dengan India, Tiongkok, dan Persia, termasuk terbentuknya jaringan ekonomi dan hubungan budaya yang berkembang pada masa tersebut. “Jilid 2, Nusantara dalam Jaringan Global. Ini perjumpaan budaya dengan India, Tiongkok, dan Persia yang ketika pada masanya itu sangat berpengaruh dan merupakan imperium-imperium besar,” kata Fadli dalam Taklimat Media di Jakarta Pusat, Senin (31/8/2026).
Pembahasan berlanjut pada Jilid III, yang mengulas hubungan Nusantara dengan jaringan global Timur Tengah. Isinya mencakup perdagangan maritim, komunitas muslim, akulturasi hukum, serta perkembangan identitas maritim dan multikultural. “Jilid 3, Nusantara dalam Jaringan Global Timur Tengah. Ini membahas perdagangan maritim, komunitas muslim, akulturasi hukum, dan penguatan identitas maritim dan multikultural,” ujar Fadli.
Sementara Jilid IV berjudul “Interaksi Awal dengan Barat: Kompetisi dan Aliansi”. Jilid ini membahas pertemuan kekuatan lokal dengan ekspansi Eropa, termasuk kompetisi, aliansi, resistensi, serta berbagai respons masyarakat dan kekuatan politik di Nusantara. Kemudian Jilid V mengangkat tema “Masyarakat Indonesia dan Terbentuknya Negara Kolonial”. Pembahasannya masuk ke periode pembentukan tata kelola kolonial, perubahan sosial, perlawanan masyarakat, hingga perkembangan kesadaran nasional. “Menyoroti penataan administrasi kolonial, perubahan sosial, perlawanan, hingga perkembangan kesadaran nasional,” kata Fadli.
Penyusunan buku melibatkan 123 pakar yang terdiri dari penulis dan editor dari 34 perguruan tinggi serta 11 lembaga independen. Fadli mengatakan Kementerian Kebudayaan berperan sebagai fasilitator dalam proses penyusunan. Substansi, metodologi, dan narasi diserahkan kepada tim penulis dan sejarawan. “Ini merupakan persembahan dari 123 pakar, yang terdiri atas penulis, editor jilid, editor umum, dari 34 perguruan tinggi dan juga lembaga, 11 lembaga independen di seluruh Indonesia,” ucapnya.
Untuk lima jilid yang diluncurkan, editor berasal dari sejumlah perguruan tinggi, antara lain Universitas Indonesia, Universitas Hasanuddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Airlangga, dan Universitas Gadjah Mada. Buku fisik dicetak secara terbatas untuk didistribusikan ke perpustakaan. Sementara versi digital dapat diakses masyarakat secara gratis melalui platform Pustaka Budaya.