JAKARTA, AFU.ID — Penutupan sejumlah bandara akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau bukan hanya karena gangguan jarak pandang. Ancaman yang lebih serius justru berada pada potensi abu vulkanik masuk ke mesin pesawat dan mengganggu kinerjanya. Sebanyak empat bandara masih menghentikan sementara operasional penerbangan hingga Senin (7/9/2026) pukul 18.00 WIB. Keempatnya yakni Bandara Soekarno-Hatta (CGK), Bandara Halim Perdanakusuma (HLP), Bandara Radin Inten II (TKG), dan Bandara Husein Sastranegara (BDO).
PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) menyebut penghentian operasional tersebut dilakukan seiring meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. “Sehubungan dengan meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, beberapa bandara PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) mengalami penghentian operasional penerbangan sampai dengan 7 September 2026 pukul 18.00 WIB,” tulis InJourney Airports melalui akun Instagram resminya, Senin.
Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (US Geological Survey/USGS) menjelaskan bahwa abu vulkanik yang masuk ke mesin pesawat dapat menimbulkan kerusakan serius, seperti dikutip Kompas. Berdasarkan pemantauan terhadap 79 insiden pesawat yang bertemu dengan abu vulkanik, partikel abu yang tajam dapat mengikis atau mengabrasi bilah kipas kompresor ketika material tersebut terhisap ke dalam mesin. Masalah lainnya berasal dari kandungan silikat berkaca (glassy silicate) pada abu vulkanik. Material tersebut memiliki titik leleh lebih rendah dibandingkan suhu pembakaran pada mesin jet modern.
Ketika abu terhisap ke dalam mesin, material tersebut dapat meleleh dan kemudian menumpuk sebagai endapan yang kembali memadat di bagian mesin yang suhunya lebih rendah. Endapan tersebut dapat terbentuk pada bagian turbin dan komponen mesin lainnya. Penumpukan abu kemudian dapat menurunkan kinerja mesin. Dalam kondisi tertentu, abu vulkanik bahkan dapat memicu in-flight compressor stall, yakni gangguan pada kompresor ketika pesawat sedang terbang, hingga menyebabkan hilangnya daya dorong mesin.
Catatan berbagai insiden menunjukkan terdapat sembilan kejadian ketika mesin pesawat mengalami kegagalan fungsi atau mati di tengah penerbangan akibat paparan abu vulkanik. Salah satu kasus terjadi pada 1989 ketika sebuah pesawat mengalami kegagalan pada keempat mesinnya setelah bertemu dengan abu vulkanik dari erupsi Gunung Redoubt di Alaska. Karena itu, kondisi langit atau jarak pandang yang masih terlihat aman dari permukaan tidak otomatis berarti penerbangan bebas dari risiko.
Abu vulkanik berukuran sangat halus dapat berada di atmosfer dan masuk ke jalur penerbangan tanpa selalu terlihat secara kasatmata dari darat. Ketika terhisap mesin, material tersebut dapat mengganggu komponen mesin dan berpotensi mengurangi atau bahkan menghilangkan daya dorong. Atas pertimbangan tersebut, penutupan bandara dilakukan sebagai langkah pencegahan. Operasional penerbangan baru dapat dipertimbangkan kembali setelah kondisi sebaran abu dinilai aman berdasarkan pemantauan terkait. Gunung Anak Krakatau sendiri kembali mengalami erupsi pada Minggu (6/9/2026) malam. Erupsi tersebut tercatat terjadi pada pukul 20.23 WIB. (EER)