Dinas Kesehatan Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, melaporkan 647 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) terdeteksi antara akhir Agustus hingga September 2026, menjadikannya sebagai penyakit dengan tren tertinggi pada pekan ke-35. Penanganan pasien dilakukan di lima fasilitas kesehatan, dan selain ISPA, terdapat juga ratusan kasus penyakit lain seperti diare akut, Influenza-Like Illness (ILI), pneumonia, dan suspek demam tifoid. Kepala Dinas Kesehatan mengatakan bahwa musim kemarau merupakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko gangguan pernapasan, karena kondisi udara yang lebih kering dapat mempermudah debu masuk ke saluran pernapasan.
ilustrasi (dok: shutterstock)
JAKARTA, AFU.ID — Dinas Kesehatan Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, mencatat 647 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sejak akhir Agustus hingga September 2026. Jumlah tersebut menjadi kasus penyakit dengan tren tertinggi pada pekan ke-35 berdasarkan pemantauan Dinkes Bangkalan. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangkalan dr Nunuk Kristiani mengatakan ratusan kasus tersebut tersebar di sejumlah wilayah.
Para pasien mendapatkan penanganan di lima fasilitas kesehatan, yakni Klinik UTM, Puskesmas Socah, Puskesmas Klampis, Puskesmas Tongguh, dan RSUD Syamrabu Bangkalan. "Jumlahnya mencapai 647 pasien ISPA," ucap Nunuk, Selasa (15/9/2026). Selain ISPA, Dinkes Bangkalan mencatat sejumlah penyakit lain dengan jumlah kasus mencapai ratusan.
Di antaranya diare akut, Influenza-Like Illness (ILI), pneumonia, dan suspek demam tifoid. "Untuk diare akut ada 338 kasus, ILI ada 332 kasus, pneumonia 130 kasus dan suspek tifoid ada 129 kasus. Semuanya sudah mendapatkan penanganan," jelasnya. Dokter spesialis paru dr Catur Budi Keswardiono mengatakan ISPA umumnya disebabkan oleh virus dan bakteri. Penularan dan kemunculannya dapat dipengaruhi sejumlah faktor.
"Kalau penyebab utamanya biasanya virus dan bakteri," ucap Catur. Menurut Catur, musim kemarau menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan. Kondisi udara yang lebih kering membuat debu lebih mudah terbawa dan masuk ke saluran pernapasan. "Kemarau bisa jadi salah satu faktornya juga," ujarnya. (FAD)