KUPANG, AFU.ID – Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 tidak hanya merusak rumah dan fasilitas umum. Dunia pendidikan ikut terdampak. Ribuan ruang kelas rusak, sekolah tidak dapat digunakan, sementara ratusan ribu siswa, guru dan tenaga kependidikan harus berhadapan dengan situasi darurat.
Di tengah kondisi tersebut, Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan satu hal: pendidikan tidak boleh ikut berhenti karena bencana. Anak-anak harus kembali belajar, meski untuk sementara harus dilakukan di tenda, ruang darurat maupun tempat lain yang aman. Dorongan itu disampaikan Melki saat rapat penanganan gempa bumi dan percepatan pemulihan wilayah terdampak yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Posko Penanganan Gempa Bumi Yonif TP 834/Wakanga Mere, Kabupaten Nagekeo, Rabu (26/8/2026).
Di hadapan Presiden Prabowo, Melki secara khusus meminta dukungan pemerintah pusat untuk menyediakan tenda yang dapat digunakan sebagai ruang kelas sementara di wilayah terdampak. “Untuk kebutuhan pendidikan, kami punya 1.041 satuan pendidikan tingkat SMA, SMK dan SLB se-NTT. Secara khusus untuk Flores, kami minta agar pendidikan di tenda bisa segera digelar. Kami butuh tenda agar pendidikan bisa segera dimulai,” ujar Melki.
Menurut Melki, mengembalikan anak-anak ke lingkungan belajar bukan sekadar persoalan akademik. Aktivitas sekolah juga menjadi bagian penting dari proses pemulihan psikologis anak setelah mengalami bencana. “Karena kalau pendidikan sudah mulai berjalan, ini juga bisa mengurangi traumatis anak-anak,” katanya.
Besarnya dampak gempa terhadap sektor pendidikan tergambar dari data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT. Sebanyak 1.378 satuan pendidikan di tujuh kabupaten terdampak, mulai dari jenjang PAUD hingga pendidikan kesetaraan. Dari jumlah tersebut, tercatat 204 PAUD, satu TK, 701 SD, 287 SMP, 116 SMA, 63 SMK, lima SLB serta satu satuan pendidikan kesetaraan Paket A, B dan C. Sebanyak 177.678 siswa dan 21.166 guru serta tenaga kependidikan turut terdampak.
Kerusakan fisik juga cukup besar. Sedikitnya 5.521 ruang kelas mengalami kerusakan dan 502 sekolah dilaporkan mengalami kerusakan berat. Kondisi ini membuat pembukaan kembali sekolah secara normal belum dapat dilakukan di sejumlah wilayah. Namun, proses belajar mulai digerakkan dengan berbagai cara. Sejumlah sekolah memanfaatkan ruang kelas yang masih aman, tenda, ruang darurat hingga tempat terbuka sebagai lokasi pembelajaran sementara.
Di SMA Negeri Maurole, Kabupaten Ende, misalnya, kegiatan belajar mengajar dilakukan secara terbatas dengan memanfaatkan tenda dan ruang terbuka. Sementara di SMAN 4 Satarmese, Kabupaten Manggarai, pembelajaran menggunakan ruang darurat.
Gubernur Melki kembali menegaskan pentingnya percepatan tersebut dalam rapat koordinasi penanganan dampak gempa sektor pendidikan bersama jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT di Kupang, Rabu (2/9/2026). “Pendidikan bergerak akan menimbulkan suasana bahwa pemulihan itu terasa. Harus mulai dibuka agar kondisi pemulihan semakin nyata,” tegas Melki.
Ia meminta sekolah yang mengalami kerusakan dan belum dapat digunakan segera memiliki alternatif ruang belajar. Tenda kelas, menurutnya, harus menjadi salah satu kebutuhan prioritas dalam masa tanggap darurat. “Kita perlu memberikan yang utama, yaitu tenda untuk ruang kelas. Daerah yang membutuhkan tenda harus kita prioritaskan. Kita harus adakan dengan cepat,” ujarnya.
Melki juga mendorong penggunaan material lokal seperti bambu dan terpal untuk membangun ruang belajar sementara. Model pembangunan sekolah darurat di Nagekeo dinilai dapat menjadi contoh bagi wilayah lain yang mengalami kerusakan fasilitas pendidikan. “Gunakan contoh di Nagekeo. Gunakan bambu dan terpal. Ini sangat mendesak,” katanya.
Selain menghidupkan kembali kegiatan belajar, pemerintah juga menaruh perhatian terhadap kondisi psikologis siswa dan guru. Melki mengingatkan bahwa trauma akibat bencana dapat berlangsung lama sehingga setiap sekolah perlu memiliki mekanisme pendampingan psikososial. “Trauma healing ini masih akan terjadi berbulan-bulan. Tiap sekolah perlu ada tim pendampingan. Harus ada kekuatan dari sekolah sendiri, jangan hanya berharap dari luar,” tegasnya.
Menurut Melki, pemulihan pendidikan harus melihat anak dan guru secara utuh. Sekolah bukan hanya tempat mengejar pelajaran, tetapi juga dapat menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk kembali berinteraksi, bermain, belajar dan perlahan bangkit dari trauma.
Karena itu, Pemerintah Provinsi NTT juga mendorong pengaktifan kembali program Jam Belajar Masyarakat sebagai alternatif bagi anak-anak yang belum dapat mengikuti pembelajaran secara normal. Pemulihan pendidikan akan melibatkan pemerintah, sekolah, keluarga, perguruan tinggi, tenaga kesehatan, komunitas budaya, lembaga adat dan masyarakat. “Yang kita pulihkan bukan hanya bangunan sekolah. Kita harus memulihkan anak-anak, guru dan seluruh kehidupan pendidikan. Sekolah harus kembali menjadi ruang yang aman agar anak-anak bisa belajar dan perlahan pulih dari trauma,” pungkas Melki. (RHU)