JAKARTA, AFU.ID — Sejumlah korban gempa Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengaku tetap ditagih utang oleh koperasi harian meski masih mengungsi dan kehilangan sumber penghasilan. Penagihan tersebut bahkan disebut terjadi beberapa hari setelah gempa mengguncang wilayah mereka pada 15 Agustus 2026. Keluhan itu kemudian disampaikan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat penanganan gempa di Mbay, Kabupaten Nagekeo, Rabu (26/8/2026).
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena melaporkan adanya korban gempa yang memiliki pinjaman di perbankan maupun koperasi. “Saya dapat kabar itu ada beberapa koperasi harian yang sudah mengejar para korban ini suruh bayar,” ujar Melkiades. Laporan itu mendapat respons langsung dari Prabowo yang meminta pihak yang melakukan penagihan tersebut datang menemuinya.“Sebelum menghadap saya, menghadap Kapolda, Pangdam ya,” kata Prabowo dalam rapat penanganan gempa, Rabu (26/8/2026).
Keluhan soal penagihan juga disampaikan warga di sejumlah wilayah terdampak gempa. Seorang warga Bangka Nekang, Manggarai, mengaku didatangi pengurus koperasi harian lima hari setelah gempa, sementara warga masih menghadapi trauma dan gempa susulan. Warga Cibal, Manggarai juga mengaku didatangi petugas koperasi untuk menagih setoran mingguan meski mereka sudah mengungsi dan kehilangan sumber penghasilan.
Para warga menegaskan, tidak berniat menghindari kewajiban pembayaran, tetapi meminta waktu hingga kondisi kembali normal. Di Desa Dimpong, Kecamatan Rahong Utara, Kepala Desa Yohanes Nggaul bahkan menerbitkan surat larangan penagihan kepada Koperasi Amarta bagi nasabah terdampak gempa hingga 4 September 2026. Langkah itu diambil untuk memberi ruang kepada warga agar dapat memulihkan kehidupan mereka setelah bencana.
Sementara itu, BNPB mencatat jumlah korban meninggal akibat gempa NTT telah mencapai 103 orang, dengan korban tersebar di tujuh kabupaten. Rinciannya yakni 41 orang di Manggarai, 34 di Manggarai Timur, 13 di Nagekeo, enam di Sikka, lima di Ngada, tiga di Ende, dan satu di Manggarai Barat. Di tengah jumlah korban dan pengungsi yang masih tinggi, warga terdampak kini harus menghadapi persoalan lain berupa tekanan pembayaran utang ketika kondisi ekonomi belum pulih. (RAI)