JAKARTA, AFU.ID — Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) kembali menggeser jajaran perwira tingginya. Kapolda Sulawesi Utara, Irjen Pol. Roycke Harry Langie, diangkat dalam jabatan baru sebagai Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi (Astamaops Kapolri). Pengangkatan ini tertuang secara resmi dalam Surat Telegram Kapolri Nomor: ST/1877/VIII/KEP./2026 tertanggal 30 Agustus 2026 yang ditandatangani oleh Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo.
Melalui promosi jabatan strategis ini, Roycke menggantikan posisi Komjen Pol. Mohammad Fadil Imran yang dimutasi menjadi perwira tinggi Stamaops Polri dalam rangka pensiun. Penunjukan ini sekaligus membukakan jalan bagi jenderal bintang dua tersebut untuk segera menyandang pangkat bintang tiga atau Komisaris Jenderal (Komjen).
Lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 24 November 1970, Roycke merupakan putra daerah asal Pakuweru, Tenga, Minahasa Selatan. Perwira tinggi yang beristrikan Joan Ferawati Koloay ini mengenyam pendidikan menengah di SMP Katolik Santo Mikhael Rike, Manado, sebelum akhirnya menempuh pendidikan kepolisian di Akademi Kepolisian (Akpol) dan lulus pada tahun 1994.
Sejak awal kariernya, ia banyak ditempa di bidang reserse dan penegakan hukum, mulai dari menjabat Kasat Serse Polres Indramayu (1995), Kanit Resmob Ditserse Polda Jabar (1999), hingga dipercaya menjadi Dirreskrimum Polda Metro Jaya (2018) dan Karowassidik Bareskrim Polri (2019). Ia juga tercatat pernah menduduki posisi pimpinan wilayah sebanyak empat kali sebagai Kapolres, termasuk di Polres Kepulauan Yapen (2012), Polres Jayapura (2012), Kapolresta Bandara Soekarno-Hatta (2015), serta Kapolres Metro Jakarta Barat (2016).
Kariernya terus merangkak naik saat dipercaya menjadi Wakapolda Bali (2020), Kakorbinmas Baharkam Polri (2023), hingga akhirnya pulang ke tanah kelahirannya untuk menjabat sebagai Kapolda Sulawesi Utara pada 20 September 2024. Roycke menyusul jejak para senior asal Sulawesi Utara yang mengukir kesuksesan di tubuh Polri, seperti Benny Mamoto, Carlo Tewu, hingga Wenny Warouw.
Pengembangan kapasitas dirinya tidak hanya bertumpu pada pengalaman lapangan. Selain menuntaskan pendidikan PTIK (2004), SESPIM (2011), dan SESPIMTI (2018), Roycke membuktikan bahwa dedikasi tugas dapat berjalan beriringan dengan pendidikan akademik. Ia resmi meraih gelar Doktor Ilmu Hukum dari Universitas Trisakti dengan predikat Cumlaude dalam prosesi wisuda pada 5 Mei 2026. Dalam sidang terbuka yang digelar 11 November 2025, ia berhasil mempertahankan disertasinya yang berfokus pada isu keamanan nasional berjudul "Strategi Optimalisasi Kerjasama Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO)".
Di bidang operasional, tinta emas rekam jejak Roycke terukir saat ia ditunjuk sebagai Kepala Operasi Nemangkawi Polri pada tahun 2020. Saat memimpin operasi gabungan TNI-Polri tersebut, ia berhasil membawa pasukannya menembus medan ekstrem Papua, melumpuhkan pimpinan militer TPN-PB, hingga merebut markas Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Di bawah komandonya, Satgas Nemangkawi mencatatkan rentetan keberhasilan penegakan hukum yang signifikan. Timnya berhasil menindak tegas dan menangkap 105 anggota KKB serta menyita 48 senjata api dan 933 butir amunisi sepanjang tahun 2020. Tindakan tegas terukur juga dilakukan terhadap sejumlah tokoh kunci KKB, seperti penembakan mati tokoh KKB Hengky Wamang pada 16 Agustus 2020 dan Danton Kelompok Kalikopi Feri Ilas pada 28 Februari 2021.
Tak hanya itu, operasi di bawah kepemimpinannya berhasil membekuk Victor Yeimo—aktor utama kerusuhan Jayapura 2019—di Abepura pada 9 Mei 2021, serta mengamankan Paniel Kogoya yang berperan sebagai penyandang dana kelompok teroris Egianus Kogoya. Pendekatan taktis Roycke juga membuahkan hasil diplomatis dengan berhasil mengembalikan 21 anggota NRFP ke pangkuan NKRI. Di samping penindakan hukum yang tegas, Roycke mengimbangi operasinya dengan pendekatan soft approach melalui program Binmas Noken yang efektif merangkul masyarakat lokal dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap TNI-Polri.
Memasuki jabatan baru sebagai Astamaops Kapolri, Roycke Harry Langie akan memegang peranan vital dalam struktur pembantu pimpinan Polri di bidang manajemen operasi kepolisian. Sebagai Astamaops, ia bertugas membantu Kapolri dalam merencanakan, mengorganisasikan, menyelenggaraan, serta mengendalikan seluruh operasi kepolisian, baik operasi rutin maupun operasi khusus kepolisian berskala nasional.
Tugas strategis yang berada di bawah kendalinya mencakup pengelolaan manajemen penanggulangan bencana, pengamanan agenda strategis nasional dan internasional, pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), hingga pengawasan gelaran operasi terpadu lintas sektoral di seluruh wilayah Indonesia. Pengalaman operasi, kepemimpinan kewilayahan, serta pemikiran hukum strategis yang dimilikinya menjadi modal utama bagi Roycke dalam mengawal stabilitas keamanan nasional di posisi barunya tersebut. (MAR)