JAKARTA, AFU.ID — Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo secara resmi menunjuk Brigjen Pol. Hengki Haryadi sebagai Kapolda Papua Barat Daya. Penunjukan perwira tinggi berlatar belakang reserse tangguh ini tertuang dalam Surat Telegram Kapolri Nomor: ST/1877/VIII/KEP./2026 tertanggal 30 Agustus 2026 yang ditandatangani oleh Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo.
Hengki menggantikan posisi Brigjen Pol. Yulius Audie Sonny Latuheru yang dimutasi ke Lemdiklat Polri. Hengki sebelumnya menjabat sebagai Wakapolda Riau selama kurang lebih delapan bulan. Lahir pada 16 Oktober 1974, Hengki Haryadi merupakan perwira tinggi lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1996 dan alumnus SMA Taruna Nusantara angkatan 1993.
Sepanjang rekam jejak pengabdiannya di korps Bhayangkara, jenderal bintang satu ini memfokuskan sebagian besar kariernya di bidang reserse dan kriminal. Berbagai posisi strategis di wilayah hukum metropolitan pernah diemban olehnya, mulai dari Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat, Kapolres Metro Jakarta Pusat, hingga menjabat sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Metro Jaya.
Nama Hengki sempat menyedot perhatian publik berkat ketegasannya dalam menindak aksi kejahatan jalanan dan premanisme di Ibu Kota. Momen ikonik dalam kariernya terukir saat ia berhadapan langsung dengan pimpinan kelompok preman legendaris, Rosario de Marshall alias Hercules. Ketika menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Jakarta Barat pada tahun 2013, Hengki memimpin langsung penangkapan terhadap Hercules dan kawanannya yang kerap melakukan aksi pemerasan serta kekerasan terhadap warga di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Ketegangan antara Hengki dan kelompok tersebut kembali berlanjut pada akhir tahun 2018 saat ia menjabat sebagai Kapolres Metro Jakarta Barat. Hengki kembali berhasil menjerat dan menangkap Hercules atas kasus intimidasi serta penguasaan lahan milik warga secara ilegal di kawasan Kalideres. Keberhasilannya mengungkap dan menindak tegas perbuatan kriminal yang meresahkan masyarakat tersebut mengukuhkan reputasinya di mata publik sebagai sosok pemburu preman yang tidak pernah gentar menghadapi intimidasi.
Pengalamannya berhadapan dengan Hercules, membuat nama Hengki sempat disebut-sebut public ketika insiden kericuhan pecah di kawasan Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada 27-28 Agustus 2026 yang mengakibatkan tewasnya seorang warga bernama Bambang Setiyawan serta jatuhnya korban luka. Hengki dinilai mampu menangani ancaman premanisme, hingga memunculkan dorongan dan harapan warga di media sosial agar sosok seperti Hengki Haryadi dapat kembali bertugas menangani keamanan Ibu Kota.
Kini, dengan segala pengalaman penegakan hukum dan keahlian reserse yang dimilikinya, Brigjen Pol. Hengki Haryadi bersiap mengemban amanah baru yang lebih besar. Ia akan memimpin Polda Papua Barat Daya untuk mengawal stabilitas keamanan dan memberikan perlindungan hukum bagi masyarakat di wilayah paling timur Indonesia tersebut. (MAR)