Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
34 Ribu Ibu dan Bayi Meninggal Tiap Tahun, Menkes: Salah Satu yang Terburuk di ASEAN
Bagikan:
Penulis: Raihan Immaduddin
Ringkasan Berita
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa sekitar 34 ribu ibu dan bayi meninggal setiap tahun di Indonesia, menjadikannya salah satu negara dengan angka kematian tertinggi di ASEAN. Menurutnya, tingginya angka kematian, terutama di Jawa Barat, disebabkan oleh lemahnya pengelolaan kebersihan dan pencegahan infeksi di rumah sakit. Kementerian Kesehatan akan mendata rumah sakit dengan angka kematian tinggi untuk memberikan pendampingan serta membuka hasil penilaian kepada publik guna meningkatkan kualitas pelayanan dan pengawasan dari masyarakat.
Pasien terdampak gempa dievakuasi di halaman RS Siloam Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Sabtu (15/8). (Foto: Antara)
JAKARTA, AFU.ID — Sekitar 34 ribu ibu dan bayi meninggal setiap tahun di Indonesia. Dari total kasus itu, 4 ribu di antaranya adalah kematian itu dan sisanya merupakan kematian bayi dan 4.000. Angka tersebut menjadi sorotan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin karena posisi Indonesia dinilai buruk dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya dalam persoalan penanganan pasien ibu dan bayi. Budi menyampaikan hal itu dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (14/9/2026).
Budi turut menyoroti tingginya angka kematian ibu dan bayi di Jawa Barat yang menurutnya termasuk salah satu yang tertinggi. "Jawa Barat itu termasuk yang paling tinggi angkanya, dan itu terjadi di rumah sakit paripurna, ya," kata Budi. Salah satu persoalan yang ditemukan Kementerian Kesehatan adalah infeksi yang terjadi setelah pasien mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Menurut Menteri Kesehatan itu, kondisi ini menunjukkan masih lemahnya pengelolaan kebersihan dan pencegahan infeksi di sejumlah fasilitas kesehatan. "Jadi cara mereka menata kebersihan rumah sakitnya itu tidak bagus." ujarnya. Kemenkes kini telah mendata rumah sakit dengan angka kematian ibu dan bayi yang tinggi untuk mendapat pendampingan langsung.
Evaluasi tersebut diarahkan pada perbaikan kualitas pelayanan, termasuk pengelolaan infeksi yang dinilai berpengaruh terhadap keselamatan pasien. "Jadi semua rumah sakit yang tinggi dari sisi kematian ibu dan bayinya, kita sudah list dan kita akan dampingi," tutur Budi. Selain pendampingan, Kemenkes berencana membuka hasil penilaian rumah sakit kepada publik agar masyarakat dapat ikut mengawasi kualitas pelayanan.
Penilaian itu nantinya dapat menampilkan peringkat rumah sakit sekaligus keluhan pasien dengan konsep yang menyerupai sistem rating pada sejumlah platform digital. "Mekanisme ini sebagai kontrol bukan hanya oleh Kementerian Kesehatan, tapi dari publik juga," kata Budi. (RAI)