Banjir bandang yang melanda kawasan perbatasan Nepal-Tibet telah menewaskan 1.003 orang dan menyebabkan 3.916 orang, termasuk 583 warga asing, masih hilang hingga 1 September 2026. Pemakaman darurat dilakukan untuk ratusan jenazah yang belum teridentifikasi akibat keterbatasan fasilitas penyimpanan, sementara tim penyelamat terus mencari korban yang hilang, termasuk sekitar 900 pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air. China telah memberikan bantuan tambahan berupa peralatan pemurnian air dan dukungan dalam identifikasi jenazah, sementara akses ke lokasi-lokasi terdampak bencana masih terhambat oleh longsor dan kerusakan infrastruktur.
operasi pascabencana di wilayah terdampak banjir bandang dekat Pelabuhan Gyirong, Gyirong County, Daerah Otonom Xizang, China barat daya, Jumat (28/8/2026). (ANTARA/XINHUA/Cui Yunhong)
JAKARTA, AFU.ID — Banjir bandang yang menerjang kawasan perbatasan Nepal-Tibet di Himalaya menewaskan sedikitnya 1.003 orang hingga Selasa (1/9/2026). Di tengah pencarian ribuan orang yang masih hilang, Nepal terpaksa melakukan pemakaman darurat terhadap ratusan jenazah yang belum teridentifikasi. Pemakaman darurat dilakukan karena fasilitas kamar mayat di sejumlah wilayah sudah tidak mampu menampung jenazah korban banjir.
Badan penanggulangan bencana Nepal mencatat 3.916 orang masih hilang, termasuk 583 warga negara asing. Tim penyelamat masih menyisir wilayah yang dipenuhi lumpur, bebatuan, dan puing-puing. Di Distrik Chitwan, kondisi menjadi semakin sulit setelah hampir 300 jenazah terbawa arus sungai hingga ke tepian. Jenazah kemudian harus ditangani melalui pemakaman sementara.
Juru bicara Kementerian Kesehatan Nepal mengatakan baru sekitar 4 persen dari sekitar 900 jenazah yang ditemukan telah berhasil diidentifikasi. Petugas bersama sukarelawan mengambil sampel DNA dari jasad yang belum diketahui identitasnya. Proses tersebut dilakukan agar jenazah dapat diserahkan kepada keluarga setelah identitasnya dipastikan.
Namun, keterbatasan fasilitas penyimpanan membuat pemerintah tidak dapat menunggu seluruh proses identifikasi selesai sebelum menangani jenazah. "Kami tidak memiliki cukup freezer di sini... Kami terpaksa memilih alternatif terakhir ini, yaitu sistem penguburan sementara. Kami benar-benar kewalahan," kata Kepala Distrik Chitwan Ganesh Aryaal.
Pemakaman dilakukan setelah fasilitas kamar mayat tidak lagi mampu menampung korban. Area hutan di luar kota juga digunakan untuk menggali lokasi pemakaman sementara. Keluarga korban masih memiliki kesempatan mengambil jenazah setelah identitasnya dipastikan melalui tes DNA. Di tengah kondisi tersebut, tim penyelamat juga masih mencari korban yang belum ditemukan.
Sekitar 900 pekerja pembangkit listrik tenaga air (PLTA) menjadi salah satu kelompok yang masih dicari. Sebagian pekerja diduga terjebak di dalam jaringan terowongan yang dipenuhi lumpur dan puing-puing. Sekitar 250 pekerja telah berhasil diselamatkan dari proyek PLTA Upper Trishuli selama akhir pekan.
China kemudian mengirimkan bantuan tambahan berupa drone, peralatan pengujian DNA, dan perangkat pemurnian air. Ahli DNA dari China turut membantu Nepal mengidentifikasi jenazah korban. Bencana tersebut menjadi salah satu kondisi terberat dalam proses pencarian korban karena akses ke sejumlah wilayah terputus akibat longsor, kerusakan jalan, dan infrastruktur yang hancur. (FAD)