JAKARTA, AFU.ID — Jagad media sosial mendadak dihebohkan oleh kabar penarikan (takedown) rekaman video aksi penganiayaan brutal di kawasan permukiman warga pasca-aksi demonstrasi di depan Gedung DPR RI pada Kamis malam (27/8/2026) hingga Jumat dini hari, oleh pihak Kementerian Komunikasi dan Digital (KOmdigi). Video aksi kekerasan fatal tersebut menayangkan detik-detik penganiayaan yang menewaskan Bambang Setiawan (59), seorang kakek penjual cermin warga Pejompongan, serta melukai Fathur, seorang siswa kelas 12 MA Jamiait Kheir yang diseret dari lingkungan rumahnya.
Netizen pun ramai-ramai mengirimkan kritik terbuka kepada Menteri Komdigi Meutya Hafid. Salah satu surat terbuka yang viral adalah unggahan akun @faridaindriastuti di platform Threads. Akun mengunggah surat terbuka bernada menohok.
"~Untuk Meutya Hafid~ Warga Pejompongan tewas dan bukti video kejahatan ormas preman di take down. Yang terhormat Meutya Hafid Kemenkomdigi, anda itu berpihak pada sisi kemanusiaan atau penjilat kekuasaan? Pak B warga Pejompongan ini bukan perusuh, bukan pendemo... Tapi harus tewas ditendang, diinjak, digebuki dengan kayu. Anda manusia bukan sih Meutya Hafid?" ujar @faridaindriastuti, dikutip Sabtu (29/8/2026).
Kritik serupa mengalir deras di platform X. Akun @Smash1014314. Ia mengecam keras penghapusan video tersebut. "jadi semalam ada korban, seorang bapak bernama pak bambang... beliau ketemu pasukan laki-laki kaos hitam dari ormas, lalu d1inj4k, d1pukul1n pakai kayu & batu sampai men1ngg4l... kejadian itu terekam video. dan videonya DIHAPUS OLEH MEUTYA HAFID DAN KOMDIGI!!!" ujarnya.
"Kabarnya video tentang penganiayaan Alm Pak Bambang di takedown komd*gi. Ini beneran apa nggak sih? Kalo beneran emang udah gak waras," kata akun @punkpinggiran.
Peristiwa tragis yang dialami Bambang bermula ketika situasi di sekitar lokasi usahanya memanas sejak Kamis sore. Sekitar pukul 16.30 WIB, ia memutuskan menutup lapak cerminnya. Malam harinya, sekitar pukul 20.30 WIB, ketika massa mulai masuk ke area pemukiman, Bambang sempat membantu mengantar tetangganya yang opname ke RS Pelni sebelum kembali ke rumah.
Melihat situasi sempat mereda, ia keluar rumah untuk mandi dan hendak kembali ke rumah sakit. Namun, hingga pukul 01.30 WIB dini hari, Bambang tak kunjung pulang. Kepastian nasibnya baru didapatkan keluarga pukul 02.30 WIB ketika sang anak mendapati video pengeroyokan yang beredar luas di media sosial.
Dalam rekaman tersebut, ayahnya tampak diinjak, dipukuli menggunakan kayu dan batu, hingga ditelanjangi oleh sekelompok pria berkaos hitam. Jasad Bambang kemudian dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati.
Sementara itu, Fatur, siswa kelas 12 yang tidak terlibat aksi demo, turut menjadi korban penganiayaan. Berdasarkan kesaksian warga RW 7 Petamburan dan RT 02 RW 06 Bendungan Hilir, kelompok massa bersama aparat merangsek masuk ke gang-gang permukiman warga. Fatur yang sedang berada di sekitar rumah bersama tetangganya mendadak didorong, diseret keluar gang, lalu ditendang pada bagian kepala serta punggung.
Ia kemudian diseret ke gedung DPR dan dibawa ke Polda Metro Jaya untuk dipaksa mengaku sebagai provokator, sebelum akhirnya dipulangkan pada Jumat siang dalam kondisi luka-luka. Dugaan kuat dari kesaksian warga di lapangan mengarah pada keterlibatan anggota Ormas GRIB Jaya yang dinilai bergerak bersama aparat saat penyisiran massa ke permukiman.
Kendati demikian, pihak manajemen dan pimpinan GRIB Jaya secara tegas membantah keterlibatan anggotanya dalam aksi kekerasan, penganiayaan, maupun pembubaran massa yang berujung pada tewasnya warga Pejompongan tersebut. Pihak otoritas kepolisian menyatakan masih melakukan penyelidikan menyeluruh untuk memverifikasi kesaksian warga serta mengidentifikasi para pelaku penganiayaan di lapangan.
Meski demikian, beberapa netizen juga menyampaikan persetujuannya atas penarikan video kekerasan tersebut dari sosial media. @bismillahyuk_ yang mengaku mantan karyawan Meta menjelaskan, penarikan video kemungkinan besar merupakan mekanisme otomatis platform karena melanggar kebijakan konten kekerasan ekstrem (gore).
"Videonya emang separah itu apa gmn? Ada gore dll & proses pemukulannya? Kalo iya, bukan dr Komdigi yg takedown. Tapi dr META nya yg take down, krn violate policy mereka.. aku bukan ngebela komdiji, aku ex karyawan META soalnya jd aku paham bgt soal takedown2 an konten," jelas @bismillahyuk_.
Sementara itu, akun @PandraArya berpendapat, penghapusan video bisa jadi dipertimbangkan untuk menjaga perasaan keluarga korban agar tidak mengalami trauma mendalam. "Salah satu pertimbangan nya mungkin biar keluarga gk trauma, cukup desak Pulici ambil pelakunya, kl video trus tayang yg untung siapa? Keluarga korban kl liat malah makin sedih," ujar @PandraArya. (MAR)