JAKARTA, AFU.ID — Aksi unjuk rasa yang kini kerap mewarnai jalanan ibu kota bukanlah fenomena baru dalam perjalanan bangsa Indonesia. Gerakan menyuarakan aspirasi ini nyatanya telah tumbuh sejak masa penjajahan Belanda. Secara bahasa, istilah demonstrasi berasal dari kata Latin demonstrare yang bermakna menunjukkan atau mengungkapkan sesuatu.
Makna kata itu awalnya lebih dekat dengan tindakan memperagakan keterampilan, sebelum akhirnya bergeser dan dikaitkan dengan tujuan politik maupun sosial yang kerap melibatkan pawai massa. Di Indonesia, cikal bakal gerakan massa dapat ditelusuri hingga era pergerakan nasional. Organisasi seperti Boedi Oetomo dan Sarekat Islam tercatat aktif memperjuangkan hak rakyat pribumi pada masa kolonial.
Demonstrasi mahasiswa berskala besar pertama di Indonesia merdeka baru tercatat pada awal 1966. Peristiwa itu dipicu lonjakan inflasi yang membuat harga kebutuhan pokok melambung. Selain itu, situasi politik yang memanas usai peristiwa G30S pada 1965 serta sikap Presiden Soekarno yang dinilai lamban merespons keberadaan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Puncaknya terjadi pada 10 Januari 1966, ketika sejumlah elemen mahasiswa dan pemuda turun ke jalan secara bersamaan. Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) bergabung dengan Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) dan berbagai organisasi pemuda lain. Aksi mereka kemudian dikenal luas dengan sebutan Tritura, singkatan dari Tri Tuntutan Rakyat.
Rangkaian aksi tersebut melibatkan gabungan lintas kelompok masyarakat, mulai dari kalangan mahasiswa, pelajar, hingga buruh. Tiga tuntutan yang dibawa dalam gerakan tersebut meliputi pembubaran PKI, perombakan Kabinet Dwikora, hingga desakan penurunan harga kebutuhan pokok. Ketegangan antara massa aksi dan pemerintah kala itu sempat berujung insiden berdarah.
Dari Malari ke Tragedi Trisakti
Pada 24 Februari 1966, seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bernama Arif Rahman Hakim tewas tertembak dalam bentrokan yang terjadi di tengah aksi. Tekanan publik yang terus membesar akhirnya berujung pada perubahan besar dalam pemerintahan. Situasi yang kian terjepit membuat Soekarno mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret atau Supersemar pada 11 Maret 1966, yang menjadi titik balik peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru.
Sejak momentum Tritura itu, demonstrasi mahasiswa berulang kali muncul dalam berbagai babak sejarah Indonesia. Delapan tahun berselang, gelombang unjuk rasa kembali pecah dalam peristiwa yang dikenal sebagai Malapetaka 15 Januari (Malari). Beragam aksi unjuk rasa tersebut dipicu rencana kedatangan Perdana Menteri Jepang Tanaka Kakuei dan polemik investasi asing.
Dari deretan aksi tersebut, korban mencapai 11 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka maupun ditangkap. Babak demonstrasi besar lain kembali terjadi tiga dekade kemudian, tepat menjelang runtuhnya kekuasaan Orde Baru. Pada 12 Mei 1998, mahasiswa Universitas Trisakti menggelar aksi menuntut reformasi yang berujung bentrokan dengan aparat dan menewaskan empat mahasiswa, peristiwa yang kemudian dikenang sebagai Tragedi Trisakti.
Rangkaian panjang sejarah tersebut menunjukkan demonstrasi telah menjadi bagian yang melekat dalam dinamika demokrasi Indonesia, dari masa penjajahan hingga era reformasi. Pola aksi turun ke jalan dengan tuntutan, orasi, dan simbol perlawanan yang terus berkembang itu pun masih terlihat dalam berbagai aksi unjuk rasa di Tanah Air hingga saat ini. (NAD)