JAKARTA, AFU.ID — Bupati Jon Firman Pandu membantah dugaan bahwa banjir bandang yang menerjang Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, dipicu oleh pembukaan lahan di bagian hulu sungai. Menurut dia, kawasan hulu selama ini berada dalam pengawasan karena lokasinya berdekatan dengan kompleks pemerintahan daerah sehingga aktivitas di wilayah tersebut dapat dipantau secara rutin.
Pernyataan itu muncul di tengah dugaan sebagian warga yang mengaitkan banjir bandang dengan kondisi di bagian hulu sungai. Pemerintah daerah menegaskan hingga saat ini tidak menemukan aktivitas pembukaan lahan baru yang dapat dikaitkan langsung dengan bencana tersebut. Karena itu, Pemkab Solok menilai banjir bandang yang terjadi merupakan peristiwa alam. “Ini memang murni bencana saja, jadi tidak ada sangkut pautnya,” kata Jon Firman Pandu, Senin (22/09/26).
Di sisi lain, sejumlah warga memiliki dugaan berbeda mengenai penyebab banjir bandang. Warga menyebut kemungkinan terdapat bendungan alami di bagian hulu yang menahan debit air dalam jumlah besar sebelum akhirnya meluap dan menerjang kawasan permukiman. Dugaan tersebut muncul setelah aliran Sungai Air Baliang kembali mengecil usai banjir bandang terjadi.
Salah seorang warga, Yanuarli, mengatakan sungai tersebut biasanya hanya berisi air ketika hujan turun. Namun menurutnya, debit air yang muncul saat banjir bandang jauh lebih besar dibandingkan kondisi yang pernah terjadi sebelumnya. Karena itu, warga menduga ada faktor lain di bagian hulu yang memicu luapan air secara tiba-tiba. “Meski hanya terisi saat hujan, tidak pernah pula debit sungainya sebesar ini hingga menerjang permukiman warga,” ujar Yanuarli.
Yanuarli juga mengaku tidak mengetahui adanya aktivitas pembukaan lahan maupun penebangan liar di kawasan hulu sungai. Menurut dia, wilayah tersebut lebih banyak dimanfaatkan sebagai perkebunan kopi, markisa, cabai, dan tanaman lainnya yang dikelola masyarakat. Karena itu, warga setempat tidak mengaitkan banjir bandang dengan aktivitas pembukaan kawasan baru.
Pemerintah daerah hingga kini masih melakukan penelusuran terhadap faktor yang memicu banjir bandang di Gunung Talang. Berbagai kemungkinan, termasuk kondisi geografis kawasan hulu dan pengaruh curah hujan tinggi, masih terus dipelajari oleh instansi terkait. Hingga Senin siang, belum ada kesimpulan resmi mengenai penyebab pasti bencana tersebut.
Sementara itu, proses pendataan dampak dan penanganan pascabanjir masih berlangsung di wilayah terdampak. Aparat bersama pemerintah daerah terus memantau kondisi sungai dan kawasan sekitar untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana susulan. Warga juga diminta tetap waspada mengingat kondisi cuaca di wilayah tersebut masih berpotensi berubah. (RHU)