JAKARTA, AFU.ID — Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Ario Bimo Nandito Ariotedjo atau Dito mengungkap alasan Menteri Agama saat itu, Yaqut Cholil Qoumas, tidak hadir dalam pertemuan Presiden ke-7 RI Joko Widodo dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) pada 19 Oktober 2023. Pertemuan tersebut kemudian berujung pada komitmen pemberian tambahan kuota haji untuk Indonesia sebanyak 20.000 jemaah. Dito mengungkapkan Yaqut tidak hadir dalam pertemuan karena saat itu pembahasan mengenai haji diwakili Menteri Luar Negeri. Dito menjadi salah satu pihak yang mendampingi Jokowi dalam kunjungan ke Arab Saudi tersebut.
Hal itu disampaikan Dito saat menjadi saksi dalam sidang kasus dugaan korupsi kuota haji tambahan 2023-2024 di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (10/9/2026). "Itu kalau enggak salah diumumkan sehari setelah pertemuan, tapi kan ada rapat lanjutannya karena saat itu kalau tidak salah Menteri Agama tidak ada, itu diwakilkan oleh Menteri Luar Negeri," kata Dito dalam persidangan.
Jaksa kemudian menggali proses awal munculnya tambahan kuota haji 20.000 jemaah tersebut. Dito menjelaskan pembahasan spesifik mengenai kuota haji tidak dilakukan dalam pertemuan bilateral utama Jokowi-MBS, melainkan muncul dalam agenda makan siang yang menjadi rangkaian terakhir kunjungan. "Sebenarnya untuk spesifik (mengenai haji) tidak ada. Itu terjadi pada saat makan siang. Pada saat agenda terakhir," ujarnya.
Menurut Dito, dalam kesempatan tersebut pihak Arab Saudi merespons permintaan Indonesia terkait tambahan kuota haji. MBS disebut menawarkan tambahan kuota sekaligus membuka peluang kerja sama di sektor lain. "Yang saya tahu memang dari Raja menawarkan dan memberikan untuk tambahan. Tidak hanya sebatas kuota, tapi ada beberapa sektor lain seperti investasi dan juga perdagangan lainnya," kata Dito.
Namun, Dito menegaskan dirinya tidak mengetahui jumlah kuota yang kemudian diberikan karena pembahasan teknis dilakukan dalam rapat lanjutan. "Oh tidak ada. Tidak ada jumlah, itu kan ada rapat teknis lanjutannya lagi," ucapnya. Jaksa kemudian memutar video pernyataan Jokowi yang diunggah melalui kanal Sekretariat Negara. Dalam video tersebut, Jokowi menyebut Indonesia memperoleh komitmen tambahan kuota haji sebanyak 20.000 jemaah.
Jokowi saat itu mengatakan antrean haji di Indonesia sangat panjang, bahkan di sejumlah daerah jemaah harus menunggu hingga 47 tahun. Karena itu, Indonesia membutuhkan tambahan kuota. "Dan Alhamdulillah ditanggapi sangat positif dan kurang dari 12 jam komitmen tambahan kuota haji langsung diberikan, paling tidak 20.000 untuk tahun depan," kata Jokowi dalam video tersebut. Setelah video diputar, jaksa mengonfirmasi pernyataan tersebut kepada Dito. "Bapak Presiden mengumumkan secara terbuka bahwa Indonesia mendapatkan kuota tambahan 20.000," kata jaksa. "Betul," jawab Dito.
Mertua Dito Bertanya soal Kuota Tambahan
Dalam persidangan, jaksa juga menanyakan komunikasi Dito dengan Fuad Hasan Masyhur, bos Maktour sekaligus mertuanya. Dito mengakui Fuad sempat menghubunginya setelah pengumuman tambahan kuota tersebut. Fuad, kata Dito, hanya memastikan apakah tambahan kuota tersebut benar-benar sudah dipastikan. "Hanya bertanya saja itu benaran atau sudah pasti atau gimana gitu. Saya hanya menyampaikan, 'Iya sudah pasti. Nanti selanjutnya teknisnya di Kementerian Agama'," ujar Dito.
Jaksa kemudian menanyakan apakah Fuad pernah bertemu Yaqut untuk menindaklanjuti tambahan kuota tersebut. Dito mengaku baru mengetahui pertemuan tersebut setelah ada agenda resmi yang diberitakan. "Saya baru mengetahuinya setelah ada pertemuan resmi dan ada di berita, tetapi saya tidak pernah mengetahui detail perencanaan dan lain-lain," kata Dito.
Dalam persidangan itu, Yaqut juga mengonfirmasi keterangan Dito dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang dibuat penyidik KPK pada 23 Januari 2026. Dalam BAP tersebut, Dito menyebut Jokowi meminta dukungan terkait penambahan kuota haji guna memangkas antrean jemaah. "Dalam BAP tanggal 23 Januari 2026, halaman 3. Saksi menyatakan bahwa Presiden Joko Widodo menyampaikan permintaan dukungan untuk pelaksanaan haji, yaitu dalam jangka pendek terkait penambahan kuota haji. Begitu ya, kira-kira ya?" tanya Yaqut.
"Betul," jawabnya. Dito mengaku tidak mengingat secara persis seluruh pembicaraan Jokowi dengan MBS. Namun, ia menyebut MBS saat itu menanyakan bentuk kerja sama yang dapat dikonkretkan antara Indonesia dan Arab Saudi. Dito juga membenarkan bahwa pembahasan mengenai tambahan kuota haji telah mendapatkan persetujuan MBS, meski jumlah kuota tidak dibahas secara spesifik dalam pertemuan tersebut. (EER)