Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo bersaksi dalam sidang dugaan korupsi kuota haji di Pengadilan Tipikor Jakarta, terkait tambahan 20 ribu kuota haji yang diperoleh Indonesia dari Arab Saudi. Dito disebutkan ikut dalam pertemuan antara Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Arab Saudi, Mohammed bin Salman, yang berhubungan dengan perolehan kuota tersebut, di mana Kementerian Haji Arab Saudi kemudian mengonfirmasi pemberian kuota tambahan. Proses pembagian kuota haji selanjutnya melibatkan simulasi sebelum ditetapkan komposisi 50:50, yang menjadi kewenangan Menteri Agama dengan mempertimbangkan regulasi dan kondisi teknis.
Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menjalani sidang perdana kasus dugaan korupsi kuota haji di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (11/8/2026). (Antara Foto/Bayu Pratama)
JAKARTA, AFU.ID — Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo bersaksi dalam sidang perkara dugaan korupsi kuota haji di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis (10/9/2026). Nama Dito sebelumnya muncul dalam pembahasan mengenai proses Indonesia memperoleh tambahan 20 ribu kuota haji dari Arab Saudi. Dito disebut berada dalam rombongan Presiden Jokowi saat bertemu dengan Mohammad bin Salman untuk meminta tambahan kuota haji.
Hal itu disampaikan Islah Bahrawi dalam podcast Akbar Faizal Uncensored yang tayang 14 Januari 2026. Ia menceritakan percakapannya dengan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas terkait tambahan kuota tersebut. Menurut Islah, Yaqut mengaku tidak mengetahui proses awal perolehan kuota tambahan. Ia kemudian menyebut Dito sebagai salah satu orang yang ikut Presiden Joko Widodo bertemu dengan Perdana Menteri Arab Saudi Mohammed bin Salman atau MBS.
“Presiden itu yang diajak adalah Dito. Dito mantan Menpora, waktu itu sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga. Itu yang diajak oleh Jokowi ketemu Muhammad bin Salman,” kata Islah. Islah mengatakan pertemuan tersebut berkaitan dengan tambahan kuota haji untuk Indonesia. “Dan disitulah dia mendapatkan kuota tambahan itu,” ujarnya.
Dalam cerita yang sama, Islah menyebut Erick Thohir dan Pratikno turut berada dalam rombongan Jokowi di Arab Saudi. “Ada Erick Tohir, ada Pratikno. Itu berdasarkan keterangan Gus Yaqut ketika itu,” kata Islah. Menurut cerita Islah, Yaqut saat itu mengaku belum mengetahui mengenai tambahan kuota tersebut karena belum mendapat perintah dari Presiden. “Saya gak tau, katanya Presiden belum memerintahkan saya,” ujar Islah saat menceritakan percakapannya dengan Yaqut.
Islah kemudian menceritakan perkembangan setelah Yaqut menanyakan persoalan tambahan kuota tersebut kepada Presiden. Menurut cerita yang disampaikannya, Kementerian Haji Arab Saudi kemudian menghubungi Indonesia untuk memastikan pemberian tambahan 20 ribu kuota. “Dan akhirnya Gus Yaqut, iya saya udah tanya ke Presiden, suruh tunggu aja katanya. Nanti dari pihak Kementerian Haji Saudi akan menghubungi. Dan setelah itu kemudian dihubungi oleh Kementerian Haji bahwa emang betul 20 ribu itu akan diserahkan ke Indonesia,” kata Islah.
Setelah tambahan kuota dipastikan, persoalan berikutnya adalah pembagian 20 ribu kuota tersebut. Islah menjelaskan bahwa pembagian awal kuota haji terdiri atas 92 persen untuk haji reguler dan 8 persen untuk haji khusus. Namun, untuk tambahan 20 ribu kuota, menurut Islah, pemerintah membuat sejumlah simulasi pembagian sebelum menetapkan komposisi 50:50.
“Sehingga dibuatlah simulasi 50-50, 60-40, 70-30 dan selanjutnya. Akhirnya ditemukan komposisi yang paling pas ketika itu dari kuota 20 ribu ini ditentukan 50-50,” kata Islah. Islah menyebut keputusan tersebut berada pada kewenangan Menteri Agama dengan mempertimbangkan regulasi dan kondisi teknis penyelenggaraan haji. “Untuk keputusan kuota 50-50 itu tetap keputusannya Menteri Agama dengan berbagai pertimbangan tadi, dengan pertimbangan regulasi juga dan undang-undang,” ujarnya.