JAKARTA, AFU.ID — Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Muhammad Herindra menyatakan informasi mengenai pola kerusuhan dalam demonstrasi Agustus 2026 telah diserahkan kepada kepolisian. Informasi tersebut disampaikan melalui koordinasi antarlembaga intelijen, tetapi detail pola dan pihak yang terlibat belum dibuka ke publik. Herindra menyampaikan konfirmasi itu seusai rapat tertutup bersama Komisi I DPR RI di Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Herindra tidak menjelaskan apakah pola kerusuhan tahun ini sama dengan rangkaian kerusuhan pada Agustus 2025. Ia menyerahkan penilaian mengenai kesamaan kelompok, metode, atau jaringan kepada kepolisian yang menangani proses hukum. BIN juga berkoordinasi dengan unsur intelijen TNI dan Polri dalam mendalami informasi terkait keamanan.
Konfirmasi tersebut muncul ketika Polda Metro Jaya memperbarui penanganan perkara kerusuhan setelah demonstrasi 27 Agustus 2026. Dari 322 orang yang diamankan, 49 ditetapkan sebagai tersangka, sedangkan 273 lainnya dipulangkan setelah menjalani verifikasi. Sebanyak 44 tersangka dewasa ditangani Ditreskrimum Polda Metro Jaya, sementara lima anak diproses melalui unit perlindungan perempuan dan anak.
Penyidik masih mendalami dugaan pihak yang menggerakkan, merekrut, dan membiayai massa dalam kerusuhan tersebut. Pendalaman juga mencakup barang-barang yang digunakan dalam aksi kekerasan serta peran masing-masing tersangka. Perkembangan ini membuat penyerahan informasi BIN menjadi bagian dari upaya mengurai kemungkinan adanya koordinasi di balik kericuhan.
Komisioner Kompolnas Choirul Anam meminta pengusutan diperluas hingga pihak yang berada di balik kerusuhan. “Peristiwa 27 Agustus kemarin malam hari harus diusut tuntas siapa saja yang melakukan kekerasan, siapa saja yang ada di balik kerusuhan itu,” kata Anam. Ia juga mendorong penelusuran aliran dana dan pihak yang memasok barang untuk aksi tersebut.
Kericuhan pecah setelah demonstrasi di depan Kompleks Parlemen, Senayan, dan meluas ke sejumlah kawasan, termasuk Slipi dan Pejompongan. Warga Bendungan Hilir, Bambang Setiyawan (59), meninggal setelah dievakuasi dalam kondisi tidak sadarkan diri, sementara Faturohman (18) mengalami luka dalam dugaan penganiayaan. Polisi masih menyelidiki perkara tersebut, termasuk dugaan keterkaitan massa GRIB Jaya yang telah dibantah organisasi itu.
Sebagai konteks, pada Agustus 2025 pengemudi ojek daring Affan Kurniawan meninggal setelah terlindas kendaraan taktis Brimob di Pejompongan. BIN belum menyatakan apakah kedua rangkaian kerusuhan memiliki pola, aktor, atau jaringan yang sama. Kesimpulan mengenai hubungan tersebut masih menunggu pendalaman penyidik dan pembuktian dalam proses hukum.
Informasi BIN menjadi bahan bagi polisi untuk menguji kemungkinan adanya koordinasi, perekrutan, atau pendanaan dalam kerusuhan terbaru. Polda Metro Jaya menyatakan penanganan dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan, verifikasi, dan alat bukti yang dikumpulkan penyidik. Keterlibatan pihak tertentu belum dapat disimpulkan sebelum bukti yang cukup diperoleh dan proses peradilan berjalan. (RHU)