Polda Metro Jaya sedang memburu aktor intelektual di balik kerusuhan yang terjadi setelah demonstrasi di sekitar Gedung DPR/MPR RI pada 27 Agustus 2026, dengan 52 orang telah ditetapkan sebagai tersangka dari total 322 orang yang ditangkap. Polisi menduga adanya penggerakan massa terorganisasi dan penyedia dana di balik aksi anarkis tersebut, yang terlihat dari kedatangan kelompok perusuh setelah massa aksi utama membubarkan diri. Penyidik terus melakukan pendalaman untuk mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat dalam mobilisasi kelompok tersebut.
Dirkrimum Polda, Iman Imanuddin dan Kadiv Humas Polda, Budi Hermanto (Foto:AFU.ID/Putri Nadhila)
JAKARTA, AFU.ID — Polda Metro Jaya masih memburu aktor intelektual di balik kerusuhan yang terjadi setelah demo di sekitar Gedung DPR/MPR RI pada Kamis (27/8/2026). Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin mengatakan penyidik masih mendalami dugaan adanya pihak yang menyediakan dana hingga menggerakkan massa dalam kerusuhan tersebut.
“Kami sedang melakukan pendalaman terhadap aktor intelektual, melakukan pendalaman terhadap dugaan penyedia dana, maupun para penggerak massa perusuh tentunya,” kata Iman dalam konferensi pers, Rabu (2/9/2026). Penyidik sebelumnya menangkap 322 orang terkait kerusuhan tersebut. Dari jumlah itu, 273 orang telah dipulangkan, termasuk 155 anak di bawah umur.
Sementara 49 orang ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan perusakan fasilitas umum dan penganiayaan. Polisi kemudian menangkap tiga orang lainnya sehingga jumlah tersangka yang kini ditahan Polda Metro Jaya mencapai 52 orang. Menurut Iman, pendalaman terhadap ratusan orang yang diamankan menemukan indikasi adanya gerakan yang terorganisasi dalam kerusuhan pasca-demo 27 Agustus.
Pola tersebut terlihat dari kedatangan kelompok perusuh setelah massa aksi utama membubarkan diri sejak siang hingga sore. Kelompok tersebut disebut datang tanpa membawa aspirasi dan langsung melakukan tindakan anarkis terhadap sejumlah fasilitas umum. Salah satu sasaran perusakan adalah gerbang Gedung DPR/MPR RI. “Nah, ini, model-model yang terorganisir, memiliki kemiripan dengan kejadian-kejadian atau kerusuhan-kerusuhan yang seperti kerap terjadi,” ujar Iman.
Polisi menduga kelompok yang datang setelah massa aksi tersebut tidak bergerak secara spontan. Meski terlihat terbagi dalam beberapa klaster, penyidik menduga terdapat mobilisasi massa di balik kerusuhan. “Sehingga ini adalah rombongan atau kelompok perusuh. Walaupun terlihat pembagian (klaster), namun kami menduga ada mobilisasi,” kata Iman. Penyidik kini masih mendalami siapa pihak yang diduga berada di balik mobilisasi tersebut, termasuk kemungkinan adanya penyedia dana dan penggerak massa. (FAD)