JAKARTA, AFU.ID — Dugaan keracunan setelah konsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dari SPPG Kalitengah meluas ke SMP Tribhakti Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur. Sebanyak 15 siswa sekolah tersebut sempat dirawat di RSUD R.T. Notopuro setelah mengeluhkan mual, sakit perut, diare, dan lemas pada Selasa. Seluruh siswa telah dipulangkan setelah mendapat penanganan medis.
Data RSUD R.T. Notopuro mencatat 335 santri Ponpes Manba’ul Hikam dan 15 siswa SMP Tribhakti mendapat perawatan dari dapur SPPG yang sama. Dengan demikian, sedikitnya 350 pasien dari dua lembaga tercatat di rumah sakit tersebut. Angka itu berbeda dari rekapitulasi Dinas Kesehatan Sidoarjo yang mencapai 566 korban dari 19 sekolah atau lembaga pendidikan, dengan 88 orang masih menjalani rawat inap.
Catatan RSUD Notopuro memuat pasien yang ditangani di rumah sakit tersebut, sementara angka 566 merupakan rekapitulasi seluruh penerima pasokan SPPG Kalitengah. Keluhan kesehatan dilaporkan setelah para penerima menyantap menu MBG yang dibagikan pada hari yang sama. Pemerintah masih memutakhirkan data korban dan status perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.
Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satgas MBG Jatim Emil Elestianto Dardak mengatakan keluhan serupa juga dialami siswa dari sekolah lain. “Selain dari pondok pesantren beliau, Mambaul Hikam, ada juga dari sekolah-sekolah lain yang mengalami keluhan,” kata Emil, Rabu (2/9/2026). Seluruh lembaga tersebut diketahui menerima makanan dari SPPG Kalitengah.
Operasional SPPG Kalitengah telah dihentikan sementara untuk kepentingan investigasi. Sampel makanan dikirim ke laboratorium, sementara tim penanganan menelusuri bahan baku, kebersihan dapur, dan proses distribusi. Hasil pemeriksaan akan digunakan untuk memastikan apakah keluhan kesehatan berkaitan dengan kontaminasi atau penyimpangan prosedur.
Siswa SMP Tribhakti yang telah pulang menjalani pemantauan rawat jalan setelah kondisi membaik. Pasien yang masih dirawat mendapat penanganan sesuai tingkat dehidrasi dan gejala yang dialami. Penyebab pasti kejadian belum dapat disimpulkan sebelum hasil laboratorium dan investigasi resmi Badan Gizi Nasional keluar. (RHU)