JAKARTA, AFU.ID — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mendeteksi 4.782 titik panas atau hotspot yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia pada Selasa (25/8/2026). Kalimantan menjadi wilayah dengan temuan terbanyak, yakni 3.391 titik atau sekitar 71 persen dari keseluruhan hotspot nasional. Sumatera menyusul dengan 1.072 titik.
Dari keseluruhan temuan nasional, sebanyak 196 hotspot masuk kategori kepercayaan tinggi. Sebanyak 4.568 titik berada dalam kategori kepercayaan sedang dan 18 titik lainnya termasuk kategori rendah. Tingkat kepercayaan menunjukkan besarnya kemungkinan anomali suhu yang dideteksi satelit berkaitan dengan kebakaran.
Kalimantan memiliki 12 hotspot kategori rendah, 3.324 kategori sedang, dan 55 kategori tinggi. Dengan demikian, sebagian besar titik panas di pulau tersebut berada dalam kategori kepercayaan sedang. Jumlah hotspot Kalimantan lebih dari tiga kali lipat dibandingkan temuan di Sumatera.
Meski jumlah keseluruhannya lebih rendah, Sumatera mencatat hotspot kategori kepercayaan tinggi terbanyak secara nasional. Dari 1.072 titik yang ditemukan di pulau tersebut, sebanyak 119 masuk kategori tinggi, 951 kategori sedang, dan 2 kategori rendah. Artinya, sekitar 61 persen hotspot kategori tinggi di Indonesia berada di Sumatera.
Hotspot juga terdeteksi di Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, Papua, dan Maluku. Jawa memiliki 135 titik dan Sulawesi 86 titik yang seluruhnya masuk kategori kepercayaan sedang. Nusa Tenggara mencatat 26 titik, sedangkan kawasan Papua dan Maluku memiliki total 72 titik.
Sebanyak 24 dari 26 hotspot di Nusa Tenggara berada dalam kategori sedang dan 2 lainnya berkategori tinggi. Di Papua dan Maluku, temuan tersebut terdiri atas 4 titik kategori rendah, 48 kategori sedang, dan 20 kategori tinggi. Data itu menunjukkan anomali panas telah terdeteksi di seluruh kelompok pulau utama Indonesia.
Pendeteksian dilakukan melalui sensor VIIRS dan MODIS yang terpasang pada satelit NOAA-20, S-NPP, Terra, dan Aqua. Sensor bekerja dengan mengenali suhu permukaan yang lebih tinggi dibandingkan wilayah di sekitarnya melalui pengamatan siang dan malam. Namun, hotspot tidak dapat langsung diartikan sebagai kebakaran yang telah terkonfirmasi karena masih membutuhkan pemeriksaan di lapangan.
Pengamatan satelit juga memiliki keterbatasan ketika suatu wilayah tertutup awan atau berada dalam zona yang tidak terpantau. Kondisi tersebut dapat membuat anomali suhu di permukaan tidak terdeteksi. Karena itu, jumlah hotspot tidak selalu sama dengan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Peningkatan risiko karhutla berlangsung ketika musim kemarau telah meluas ke 559 zona musim atau sekitar 79,9 persen wilayah Indonesia. BMKG menyebut kondisi kering turut dipengaruhi El Niño kategori sangat kuat dan Indian Ocean Dipole positif. Kedua fenomena tersebut mengurangi pasokan uap air dan mempertahankan curah hujan rendah di banyak wilayah.
Citra sebaran asap menunjukkan kabut terdeteksi di sejumlah provinsi di Sumatera, Kalimantan, Maluku, dan Papua. Dampaknya telah dirasakan sektor transportasi setelah 43 penerbangan dari dan menuju Bandara Soekarno-Hatta dibatalkan pada 22–23 Agustus 2026. Pembatalan tersebut terjadi karena jarak pandang di lima bandara tujuan di Kalimantan menurun.
BMKG memperkirakan kondisi atmosfer masih cenderung kering selama periode 25–31 Agustus 2026, meskipun hujan lokal tetap berpotensi terjadi. Pemerintah daerah dan masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan di lahan gambut, kawasan hutan, serta wilayah yang mengalami hari tanpa hujan berkepanjangan. BMKG juga meminta masyarakat “tidak membakar sampah atau membuka lahan secara sembarangan” dan segera melaporkan apabila menemukan indikasi titik api. (RHU)