JAKARTA, AFU.ID — Sebanyak 25 siswa di Desa Penungkul, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (24/9/2026). Keluhan muncul beberapa saat setelah makanan dikonsumsi. Hingga kini, penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut masih dalam penyelidikan. Peristiwa ini muncul di tengah sorotan terhadap sejumlah insiden serupa yang sebelumnya terjadi pada program MBG.
Para siswa diketahui menerima makanan sekitar pukul 09.00 hingga 10.00 WIB. Tidak lama setelah itu, sejumlah siswa mulai mengeluhkan kondisi tubuh yang tidak nyaman. Keluhan yang muncul didominasi mual dan pusing. Dari total 25 siswa yang terdampak, 23 merupakan siswa madrasah ibtidaiyah (MI) dan dua lainnya siswa raudhatul athfal (RA).
Petugas kesehatan yang menerima laporan kemudian bergerak melakukan penanganan terhadap para siswa. Penanganan juga melibatkan petugas dari puskesmas untuk memastikan kondisi anak-anak tidak memburuk. Sejumlah pihak terkait langsung mendatangi lokasi setelah menerima informasi adanya siswa yang mengalami keluhan kesehatan. Pemeriksaan awal dilakukan untuk memantau perkembangan kondisi para siswa.
Setelah mendapatkan penanganan, kondisi para siswa dilaporkan berangsur membaik. Mereka tidak menjalani perawatan dalam waktu lama dan diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing. Pemerintah setempat menyebut seluruh siswa telah meninggalkan sekolah sekitar pukul 12.30 WIB. Tidak ada laporan mengenai siswa yang harus dirujuk ke fasilitas kesehatan lanjutan.
Menu MBG yang dikonsumsi para siswa pada hari itu terdiri dari telur, jagung, tempe, wortel, dan susu. Namun hingga Kamis malam belum ada kesimpulan apakah makanan tersebut menjadi penyebab munculnya keluhan yang dialami para siswa. Pemeriksaan lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui sumber pasti gangguan kesehatan tersebut. Karena itu, otoritas setempat belum menyimpulkan adanya keracunan makanan.
Pihak penyelenggara program MBG di wilayah tersebut juga telah berkoordinasi dengan sekolah untuk memantau perkembangan para penerima manfaat. Jika ditemukan keluhan tambahan, sekolah diminta segera melaporkannya agar dapat ditindaklanjuti. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kasus serupa pada siswa lain. Pemantauan kesehatan juga masih berlangsung pascakejadian.
Sementara itu, Camat Gebang Endah Hanna Rosanti menyatakan kondisi 25 siswa yang mengalami keluhan sudah mulai membaik. Meski demikian, pemantauan tetap dilakukan setidaknya selama 24 jam ke depan untuk memastikan tidak ada gejala lanjutan yang muncul. Pemerintah daerah juga meminta masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab kejadian tersebut sebelum hasil penelusuran selesai. Sejumlah pihak terkait masih mengumpulkan data untuk mengetahui penyebab pasti keluhan yang dialami para siswa. (RHU)