JAKARTA, AFU.ID — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengeklaim Absorbed Natural Gas (ANG) lebih efisien dua kali lipat dibanding dengan gas Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk pemakaian rumah tangga. Kepala BRIN Arif Satria mengatakan penggunaan ANG nantinya dapat membuat gas bertahan lebih lama dibandingkan gas konvensional yang digunakan rumah tangga saat ini. "Ini akan menjadi revolusi energi di Indonesia," kata Arif dalam kegiatan Energy Week 2026 di Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Arif mengatakan, ANG dapat bertahan hingga 20-25 hari, tidak seperti gas LPG dalam ukuran yang sama, yang masa pakainya sekitar 10 hari. Lantas, apa sebenarnya ANG dan apa bedanya dengan LNG? ANG merupakan teknologi penyimpanan gas alam dengan cara mengikat atau mengadsorpsi molekul gas, terutama metana, pada material berpori. Salah satu material yang dikembangkan untuk teknologi ini adalah MOF yang memiliki struktur dengan banyak pori sehingga dapat menyimpan molekul gas dalam jumlah besar.
Konsep tersebut berbeda dengan Liquefied Natural Gas (LNG). LNG merupakan gas alam yang didinginkan hingga sekitar minus 162 derajat Celsius sehingga berubah menjadi cair. Dalam bentuk cair, volume gas alam dapat menyusut sekitar 600 kali dibandingkan ketika berada dalam bentuk gas. Karena itu, LNG banyak digunakan untuk penyimpanan dan pengangkutan gas dalam jarak jauh.
ANG tidak membutuhkan proses pencairan pada suhu kriogenik seperti LNG. Teknologi ANG menyimpan gas pada material adsorben dalam kondisi temperatur yang lebih mendekati suhu lingkungan. Penelitian mengenai ANG menunjukkan teknologi ini dapat bekerja pada tekanan yang jauh lebih rendah dibandingkan penyimpanan gas alam dengan metode compressed natural gas (CNG), meski tekanan operasinya tetap lebih tinggi dibandingkan tabung LPG.
Perbedaan tersebut membuat ANG berpotensi memiliki sistem penyimpanan yang lebih sederhana dibandingkan LNG. Pada LNG, gas harus tetap berada dalam kondisi sangat dingin sehingga membutuhkan fasilitas dan tangki kriogenik khusus. Sementara pada ANG, gas disimpan dengan memanfaatkan material berpori untuk meningkatkan jumlah gas yang dapat ditampung dalam tabung.
Material MOF menjadi bagian penting dalam pengembangan ANG karena struktur berporinya dapat memberikan ruang yang luas untuk mengadsorpsi molekul metana. Sejumlah penelitian telah mengembangkan berbagai jenis MOF untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan metana pada temperatur yang lebih mendekati kondisi lingkungan.
Meski demikian, ANG dan LNG sebenarnya berada pada kebutuhan penggunaan yang berbeda. LNG terutama digunakan sebagai metode penyimpanan dan transportasi gas alam dalam skala besar, sedangkan ANG yang dikembangkan BRIN diarahkan untuk pemanfaatan yang lebih dekat dengan konsumen, termasuk kebutuhan rumah tangga. Karena itu, klaim ANG lebih murah tidak berarti biaya gas ANG saat ini sudah pasti lebih rendah daripada LNG. Keekonomian ANG masih bergantung pada desain tabung, material MOF, proses pengisian, infrastruktur distribusi, serta skala produksinya. Penelitian mengenai ANG di Indonesia juga sebelumnya menyebutkan perlunya analisis keekonomian sebelum teknologi tersebut diterapkan secara komersial.
BRIN menargetkan teknologi ANG tersebut dapat diluncurkan pada 2027. Pengembangannya dilakukan bersama pakar dari Kyoto, Prof Susumu Kitagawa, melalui pembangunan laboratorium kemitraan atau sister lab di Serpong, Tangerang Selatan. "Mohon doanya moga-moga 2027 ini inovasi ini bisa kita launching, dan kemudian bisa disebarluaskan kepada masyarakat," ujar Arif.
Menurut Arif, pengembangan ANG menjadi bagian dari upaya BRIN mendorong kemandirian dan kedaulatan energi nasional. Pengembangan tersebut juga ditempatkan dalam ekosistem yang menghubungkan laboratorium, perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan masyarakat. Ia mengatakan pengembangan energi bersih menjadi salah satu prioritas karena Indonesia memiliki potensi energi surya, panas bumi, angin, bioenergi, serta berbagai sumber energi lainnya.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menilai hilirisasi teknologi yang dilakukan BRIN bersama peneliti perguruan tinggi dapat mendukung kemandirian energi dan penguatan industri nasional. "Dengan riset yang kuat, talenta yang unggul, dan industri yang terlibat insya Allah Indonesia mampu membangun kemandirian energi, memperkuat industri nasional, dan melangkah menjadi negara maju," kata Brian. (EER)